
Suara alarm merambat di seluruh keheningan. Membangunkan seorang gadis dari tidur lelapnya. Perempuan itu pun bangkit dari kasur empuknya. Dia segera berlari keluar, lantas membuka pintu kamar sebelah secara paksa.
Najda menghampiri ibunya. Dia memeluk tubuh malaikat pelindung itu dengan sangat erat. Wajahnya diliputi dengan ketakutan. Anak itu menangis. Alhasil, sang ibu pun terkejut melihatnya.
“Loh, kok anak Ibu nangis?” tanya Dina.
“Ibu, aku takut,” ucap Najda lirih.
“Takut kenapa?”
Artikel yang sesuai:
“Tadi aku mimpi buruk. Aku mimpi kalo perombaan puisi itu gagal. Aku takut, Bu.”
“Sayang, kamu jangan takut! Kita punya Allah. Mintalah hanya kepada-Nya. Kamu harus berdoa agar pikiran-pikiran negatif itu hilang. Kamu tahu Nak, Allah itu sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Oleh karena itu, saat terbersit pikiran-pikiran aneh, kita tidak boleh percaya begitu saja,” nasihat Dina.
“Tapi, Bu ….”
“Nak, dengarkan kata-kata Ibu. Kamu harus yakin kalo nggak ada sesuatu yang nggak mungkin di dunia ini. Kalau Allah berkehendak, tidak akan ada yang mustahil. Kun fayakun. Jadi, maka jadilah.”
Najda membangun kembali pikirannya. Dia mencoba untuk menghapus berbagai pikiran negatif yang ada di benaknya. Baginya, ketakutan itu wajib dilenyapkan. Dia harus meluruskan hati dan kembali berharap kepada Allah.
Penulis: Iis Sumiati






