
Sepuluh menit berlalu. Namun, Najda tidak bergerak sedikit pun. Dia tetap membeku. Gadis berhijab itu masih saja berkutat dengan pikirannya. Dia takut jikalau semua ketakutannya berubah menjadi kenyataan.
“Dek, ayo cepat! Kita dikejar waktu. Masih banyak peserta lain yang belum tampil.” Sang MC kembali berucap.
Najda masih saja terdiam. Keberaniannya tidak kunjung tumbuh. Ada rasa malu yang menutupinya. Keberanian itu terkubur oleh rasa takut. Kekhawatiran-kekhawatiran yang ada di kepalanya sudah menutupi akal sehat. Sehingga, dia tidak mampu lagi untuk berpikir jernih.
“Najda, ayo mulai!” teriak Dinda dari samping panggung.
Tidak ada seorang pun yang mampu menjadi sumber kekuatan bagi Najda. Mereka tidak dapat meneguhkan hatinya. Bagi Najda, semua orang hanyalah ingin menjerumuskannya ke dalam jurang kegagalan. Kegagalan yang akan menghancurkan hidupnya.
Artikel yang sesuai:
Penonton mulai kecewa. Mereka berteriak dan menyuruh Najda untuk turun. Remaja itu semakin ketakutan. Kini, apa yang dipikirkannya mulai terjadi. Satu per satu ketakutannya berubah menjadi kenyataan. Najda menangis. Air matanya menetes membasahi pipi.
“Hei, turun kamu! Kami tidak ingin menyaksikan penampilan membosankan seperti ini. Jangan buang-buang waktu kami hanya untuk menyaksikan penampilan murahan ini,” ucap salah satu penonton.
“Benar itu, cepat turun! Kami tidak punya waktu untuk dibuang-buang percuma,” timpal penonton lain.
Suasana mulai memanas. Banyak penonton yang sudah tidak dapat bersabar lagi. Kericuhan pun tidak dapat dielakkan. Puluhan penonton mulai melempari Najda dengan ratusan kertas yang ada di tangan mereka. Kertas-kertas itu merupakan naskah puisi yang seharusnya Najda bacakan sekarang.
Lomba puisi tingkat provinsi itu pun berakhir dengan ricuh. Para penonton membubarkan diri karena sudah kesal dengan apa yang terjadi. Mereka tidak ingin lagi melihat penampilan berikutnya yang mungkin tidak akan jauh berbeda dengan ini.
Kalau pun akan jauh lebih baik, itu tidak akan dapat memperbaiki mood mereka yang berantakan. Sehingga, tidak akan ada lagi kompromi yang dapat dilakukan.
Najda menangis tersedu-sedu. Puisi indah yang sudah dia siapkan sejak jauh-jauh hari, kini tinggal sampah belaka. Kertas itu tidak lagi bernilai. Bahkan, karyanya tidak jauh lebih berharga dari tumpukan barang-barang bekas.
Ketakutan-ketakutan di dalam benak Najda mampu menghilangkan keberaniannya. Bahkan keberanian itu tidak tersisa barang hanya sedikit. Semangatnya telah hilang. Harapannya telah hancur. Mimpinya telah musnah.






