Cerpen – Remaja Sekolah by Ni Made Yuliantari

Cerpen - Remaja Sekolah by Ni Made Yuliantari

“Raygon, singkirkan kaki kamu dari meja saya.” Lelah—itulah yang dirasakan oleh Bu Welas.

Seakan tuli, Raygon masih setia dengan posisinya. Baru kemudian dirinya berbicara, ”Seharusnya Ibu berterima kasih sama saya. Kalau bukan karena saya, buku catatan Ibu bakalan kosong.”

“Keluar dari ruangan saya sekarang juga!” Bu Welas sudah tidak tahan lagi dengan muridnya yang satu itu.

Benar saja, Raygon perlahan menurunkan kakinya di atas meja. Setelahnya ia bangkit dari tempat duduk. Sebelum keluar dari ruangan, Raygon medekati telinga Bu Welas dan mulai membisikkan sesuatu, “Jangan marah-marah, Bu. Nanti enggak awet muda.”

Ia kemudian keluar dari ruangan tersebut. Dengan perasaan biasa-biasa saja. Raygon mempunyai alasan untuk melakukan itu semua. Di cap sebagai preman sekolah? Itu tidak masalah baginya. Sekilas ia melihat ke arah jam tangannya. Sebentar lagi jam istirahat akan dimulai. Langsung saja ia menuju ke halaman belakang sekolah. Masuk ke dalam kelas, hanya membuang-buang waktu bagi Raygon. Halaman belakang sekolah itu cukup asri.

Banyak ditumbuhi oleh pepohonan besar. Jangan lupakan beberapa bangku memanjang yang berada di halaman belakang sekolah. Raygon menghampiri salah satu kursi memanjang. Langsung saja ia merebahkan tubuhnya di atas kursi dan mulai memejamkan mata. Tangan kanannya ia gunakan untuk menutupi wajahnya. Lain halnya dengan tangan kirinya yang ia taruh di atas perut. Udara sejuk yang dihasilkan dari pepohonan di sana membuat siapa saja merasa betah berada di tempat itu.

Sebuah minuman dingin yang menyentuh pipi Raygon berhasil membuat dirinya terperanjat kaget. Mata Raygon langsung bertemu pada sosok perempuan mungil yang tingginya sekitar 158 senti meter. Gadis itu tersenyum ke arah Raygon.

“Geser dong, gue juga mau duduk.”

Raygon berdecak pelan sebelum ia bangkit dari tidurnya. Kini gadis tersebut duduk di samping Raygon. Chalinda namanya—sahabat Raygon. Kedua minuman yang tadinya dibawa oleh Chalinda ia taruh di antara dirinya dan Raygon duduk.

“Minum, biar segar.” Chalinda menyerahkan salah satu minuman dingin kepada Raygon.

Tanpa basa-basi Raygon segera mengambil pemberian itu dan meneguknya sampai habis. Kaleng minuman yang telah kosong ia lempar ke sembarang arah. Sontak Chalinda memukul bahu Raygon dengan keras.

“Sakit, Cha.” Raygon memegang bahunya yang terasa sakit.

“Ambil!” Chalinda menunjuk ke arah kaleng yang baru saja dilempar oleh Raygon.

“Enggak!” Raygon kembali menyandarkan tubuhnya di kursi.

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn