
“Eh, iss, jauhkan wajah kamu.” Aidan menjauhkan sedikit wajahnya, kemudian Aira melanjutkan penjelasannya. “Aku salah naik bus,” katanya lesu.
“Salah naik jurusan atau sengaja mau ngunjungi aku?” Goda Aidan dengan wajah yang kembali didekatkan ke arah Aira.
“Isss, apaan sih. Nggak ya, siapa juga yang tau kalau kamu di sini.”
“Berarti Tuhan sedang mempertemukan kita kembali.” Aira kembali menutupi wajahnya ke dalam dada Aidan.
“Udah ah. Ayo aku antar pulang.”
Artikel yang sesuai:
“Ayo, ke rumah aku dulu. Orang tuaku pasti rindu sama kamu. Nanti setelah itu aku antar pulang. Atau mau nginep di rumah aku dulu juga boleh,” ajak Aidan dengan tangan kiri yang tengah menggandeng tangan kanan Aira, mengajaknya melangkahkan kaki, ke arah rumahnya.
“Boleh, tapi aku nggak mau nginep ya.” Aira tersenyum di akhir katanya.
Aira boleh berencana, tapi Aira juga harus ingat Tuhanlah sebaik-baik rencana. Lihatlah, rencana Tuhan jauh lebih indah dari rencananya, bukan?
Penulis: Mila Octaviana Sari






