
Di tempat mana pun, aku selalu dianggap sebagai si bungsu yang dewasa. Temanku yang lain lebih tua dariku. Namun, mengapa mereka bergantung padaku? Aku dengan setia mengusap air mata atau dengan mirisnya berpura pura ceria agar mereka tertawa.
Kalian pernah melakukannya, kan? Bagaimana rasanya? Meskipun aku melakukan segalanya, pada akhirnya aku tetap kehilangan mereka. Bersembunyi dalam ucapan ‘Kami tak tahu harus bagaimana’.
Cerpen – Min Verden by Adhina Tabryana
Aku bertanya pada diri sendiri, mengapa? Dimana letak kesalahanku? Apakah ini wajar? Atau apakah manusia memang harus seperti ini? Aku benci. Agar bertahan hidup, aku mempercayai 3 kata ini di sepanjang hidupku ‘Aku bisa sendiri’.
Ujian di depan mata, aku diberi pilihan melanjutkan pendidikanku atau bekerja. Bukannya sombong, tetapi aku termasuk anak yang cerdas. Ada banyak yang ingin ku raih. Namun, tahukah dirimu? Impian saja tak cukup meraih segalanya. Pada akhirnya, aku berbohong mengatakan ingin bekerja hanya agar tidak menjadi beban orang lain.
Lalu entah takdir sedang bercanda denganku atau tidak. Berita di televisi serempak mengabarkan satu berita besar “wabah”. Berkat goresan tinta takdir dalam hidup ku, aku mengacaukan segalanya, lagi.
Artikel yang sesuai:
Mencari pekerjaan sangat susah saat itu. Melihat teman yang dulu pernah berjanji akan selalu bersama kini menggapai tujuannya sendiri. Sedangkan, aku masih diam di tempat. Aku muak pada diri sendiri.
Setiap malam aku berdoa agar ada seseorang yang menyelamatkanku. Aku berjanji tak akan berbohong lagi. Doa itu bagaikan bunga dandelion yang setelah ditiup, akan menghilang. Dunia ku begitu gelap, langkahku penuh duri. Aku melakukan segala cara agar bisa kembali pada diriku.






