
“Orang rusak? Sorry deh jika lo bilangnya gue, tapi gue nggak” cowok itu kini memandangnya, dengan wajah terpasang raut tersinggung. “Dan, om? Gue belum setua itu, dek. Satu helai uban pun belum tumbuh. Lo nya aja yang kekecilan, dek”
Kekecilan? Refleks Eisha menyilangkan kedua tangannya, memandang cowok itu dengan wajah merah, marah. “Eh, elo! Sembarangan ngomong lo. Dasar mesum! “
Mungkin Eisha merasa perkataan cowok itu bermakna yang tidak benar, jadilah ia mundur sedikit menjauh, setidaknya sedikit celah untuk bisa kabur, jika ada apa-apanya nanti.
Dasar cowok mesum. Gak keinget usia apa?
Tapi…
Diam-diam Eisha menatap cowok itu, tentu saja dengan gerakan yang tidak terlalu kentara. Dari ekor matanya, ia menatap postur tubuh cowok itu.
Artikel yang sesuai:
Badannya tegap. Garis wajahnya tegas-Eisha tidak bisa melihat jelas wajahnya karena tertutup topi bisbol yang dikenakan cowok itu- namun terkesan orang dewasa. Pakaiannya lusuh, sepertinya baju lama. Dari sepatunya, kotor berdebu, entah dicuci apa enggak. Celananya, aduhai lagi, robekan kecil terlihat sana sini. Kenapa gak beli yang baru sih? Sama dompet aja, pelit. Dan hoodie hitam yang sedikit kebesaran mungkin untuknya… Tapi Eisha berani yakin kalau di di dalamnya, otot otot itu dilatih cukup rajin, dan gayanya…
“Udah puas ngeliatin gue? ” Eisha terkejut ketika cowok itu menatapnya. Malu ketangkap basah, Eisha segera mengarahkan pandangan lurus kedepan, walau gak ada apa apa yang bisa dilihat.
“Udah ngaku aja kalo gue ganteng, dek” Duh, Narsisnya!
“Apaan sih? Ge-er mulu” Eisha berpura-pura nyolot, kemudian kembali melirik jam tangannya. Aduh, masih lama nih, kemana sih? Terburu-buru amat nih gua, mana ada orang mesum lagi. Semoga aja pas balik, mama gak shock melihat satu satunya anak gadisnya udah gak utuh lagi. Tuhan, selamatkan aku darinya!






