
Aku menarik napas pelan, mengisi rongga dada, menenangkan debar yang telah lama tak pernah datang.
“Kau tahu, kita semua hidup di dunia sendiri. Prameswari juga. Ia hidup dengan segala kemewahan kehidupan yang banyak orang idamkan. Ia juga hidup di sana.” Balasku menanggapi. Ayolah, kita semua memiliki pilihan dalam hidup, dan menikmati dengan cara yang berbeda-beda.
Cerpen – Langis by YH Harahap
Lelaki itu tertawa sinis. “Kau salah, Pra tidak begitu. Ia menangis setiap pukul dua belas malam, karena lelah dengan topeng yang ia gunakan. Begitu fajar tiba ia akan menjadi Pra yang kalian kenal, si ceria ramah tamah dan penuh kehidupan yang menyenangkan.
Pra bahkan tak punya kebebasan hanya untuk sekedar memilih. Ia hidup dengan topeng yang telah diberikan lingkungannya sejak kecil. Pra pecundang, ia tak hidup itu sebabnya ia memilih mati, bodoh.”
Aku terhenyak, apa yang sedang dibicarakan laki-laki ini.
Artikel yang sesuai:
“Jika saja ia berani melakukan satu hal yang menjadi pilihannya, impiannya, barangkali ia akan tertawa dengan lepas atau setidaknya menangis dengan sekuat tenaga. Tapi Pra pengecut, ia bahkan tak berani memilih cinta yang ia mau. Pra lebih memilih yang dunia tawarkan sebagai kesenangan dan membunuh kebahagiaannya sekuat tenaga. Itu kenapa ia mati, karena sudah tidak sanggup menghadapi kebodohannya.”
Laki-laki itu masih berapi-api, matanya nyalang tak lagi kelam. Memerah seperti menahan begitu banyak kelumat yang selama ini enggan pergi. Sesuatu yang juga aku lihat di pemakaman kala itu.
“Pra tak mati karena Tuhan menggariskan demikian, tapi karena itu satu-satunya keinginan yang akhirnya ia wujudkan. Ia menelan semua pil pahit kehidupannya yang penuh sandiwara kebahagiaan, meninggalkan putrinya karena lebih merindukan neraka. Pra mati karena ia membunuh kehidupannya yang membosankan.”
Aku semakin bisu, gejolak dalam dadaku tak lagi desiran halus. Ia berubah ombak menggulung disertai badai yang tak henti.
“Atas dasar apa kau mengatakan demikian?”
“Prameswari adalah kekasihku, bahkan masih saat ia meminum pil bunuh diri malam sebelum kita bertemu.”
Aku terhenyak, bisu.
Penulis: @yhharahap






