
Aku tak merasakan ada kehangatan sama sekali saat tadi Ayah dan Ibu menemukanku. Justru di dalam kepanikan mereka, aku mendengar rasa tak bersalah. Aku tidak tahu, ini hanya hipotesis sementara, atau aku hanya tidak mampu mendeteksi perasaan mereka tentang kasih sayang. Sebenarnya, sejauh apa kita, Yah, Bu?
“Mara,” Ayah memanggil namaku dari pintu.
Cerpen – Jika Pengakuan Adalah Segalanya by Mitchell Naftaly
“Ayah?” aku bangkit berdiri. Respons ini terlalu berlebihan.
“Kenapa di luar? Kamu tahu ini pukul berapa?”
Salah Ayah, bukan kalimat itu yang seharusnya keluar. Kau tak paham Ayah, seharusnya kau membujukku masuk, bukan menanyaiku persoalan yang aku tahu. Untuk apa Ayah bangun jika hanya menanyaiku pertanyaan bodoh itu?
Artikel yang sesuai:
“Mara kepanasan di dalam, Ayah.” Aku membual.
“Di luar nggak dingin?”
“Sedikit lebih baik, Ayah.”
“Masuk! Jangan merepotkan lagi.” Aku mengangguk.
Ah, Ayah, aku ingin mengatakan kau bukan Ayahku, namun bersamamulah aku tinggal sekarang. Ayah, apa kau tak hendak bertanya ada apa denganku? Apa kau tak penasaran dengan luka di sekujur tubuhku? Apa salahnya jika membujukku agar masuk ketimbang memarahiku, bahkan tanpa senyuman sedikit pun.
“Abangmu sudah menjelang tiga tahun,” Ayah membuka suara setelah duduk di sebelahku.
Aku kelu. Untuk yang tak terbilang banyaknya, lagi, Ayah mengungkit masalah kepergian anak laki-laki kesayangannya. “Ayah rindu dia,” lanjut Ayah sambil berpaling ke arahku.






