Cerpen – Jika Pengakuan Adalah Segalanya by Mitchell Naftaly

Rumah terasa lebih sunyi karena jarum jam menunjukkan pukul 3 dini hari. Tak ada suara. Aku hanya mendengar suara dengung nyamuk, dan sisa air hujan yang jatuh dari atas loteng. Ayah tertidur di sofa, sedang Ibu di lantai beralaskan kasur kecil dengan sebuah selimut tebal. Ayah meringkuk kedinginan.

Dengan gerakan perlahan aku keluar dari selimut. Aku mendengus pelan karena mencium sesuatu, ternyata tubuhku bau obat. Pasti dokter itu mengoleskan semua obat yang dia tahu. Punggung tangan kiriku diinfus, dahiku ditempel sesuatu yang aku tidak tahu apa namanya.

Cerpen – Jika Pengakuan Adalah Segalanya by Mitchell Naftaly

Hawa dini hari memang terlalu dingin, tetapi bukankah aku tadi baru mandi air panas? Jadi, tanpa ragu segera kucabut dengan asal jarum yang menancap di punggung tanganku, kemudian langkahku menghambur ke luar. Derit pintu ternyata sama sekali tak membangunkan Ayah dan Ibu, kelihatannya mereka lelah sekali. Aku tidak tahu pasti, itu karena mereka bekerja seharian, atau karena baru bisa tidur setelah menjagaku.

Kini aku duduk di teras seorang diri. Jika dikatakan manusia normal, mungkin tidak. Tetapi aku masih di ruman bukan RSJ. Aku hanya ingin melamun sebelum matahari terbit, yang entah tengah bertugas di belahan bumi sebelah mana.

Ini sudah ke sekian kalinya aku menyiksa diri menggunakan air mendidih, dan baru kali ini tubuhku begitu lemah. Biasanya aku mampu berdiam di dalam air panas itu selama lebih dari tiga puluh menit. Aku masih sanggup memakai handuk, berpakaian, dan bahkan minum susu setelah melakukannya. Anehnya, percobaan kali ini melibatkan Ayah dan Ibu. Aku tidak tahu atas dasar apa aku pingsan. Seperti yang tadi sudah kukatakan, perihal ini sudah berulang kali terjadi, dan aku kuat.

“Aku penasaran pendapat mereka,” ucapku lirih atau mungkin aku sedang berbincang dengan sosok tak kasat mata yang nyatanya lebih berusaha mengerti keadaanku.

Dunia terasa hampa. Aku merasa kegelapan lebih pekat, bukan karena tak ada matahari, tetapi karena terlalu sunyi. Aku sendiri. Diam. Kesepian. Luka bakar di sekujur tubuhku selama berminggu-minggu ditambah yang tadi, sama sekali tak sebanding dengan luka yang nyaris membusuk di dalam lubuk hatiku yang dalam.

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn