Cerpen – Jika Pengakuan Adalah Segalanya by Mitchell Naftaly

Di luar rumah ada mobil polisi dan ambulan yang berserakan. Semua tetangga mengintip hendak tahu apa yang terjadi dengan rumah yang lebih mirip rumah hantu karena sudah tiga tahun tak terurus itu. Sedang di dalam, polisi menginterogasi Ayah dan Ibu Mara. Keduanya tampak ketakutan, bukan karena kehilangan tapi karena takut dituduh.

Di atas tempat tidur, di pojok rumah dekat jendela, terbaring tubuh Mara yang sudah membiru, dan penuh bekas luka melepuh. Bibirnya pucat dan tubuhnya tertutup selimut sampai seleher, selimut yang selama ini menjadi teman dan kesukaan Mara.

Cerpen – Jika Pengakuan Adalah Segalanya by Mitchell Naftaly

Ayah dan Ibunya memandangi wajah Mara pasca interogasi selesai. Mereka tak berhenti terisak dan saling berpelukan. Mara sudah tidak ada. Dokter menyarankannya untuk beristirahat setelah kejadian itu, tetapi Mara lebih memilih pergi. Ia merasa sudah menyelesaikan segalanya termasuk pesan yang hendak ia keluhkan selama ini.

“Mara sudah tak merasa sendiri lagi Ibu, Ayah. Jangan menangis, sesegera mungkin Mara akan menemui Abang, dan memberitahukan kabarnya melalui mimpi. Karena selama ini, Abang tak hendak menemui kalian, kan? Hingga akhirnya, Mara-lah yang terasingkan. Temui Mara di negeri mimpi malam ini. Maaf karena Mara selalu mengusik kehidupan kalian. Selamat tinggal Ayah, Ibu … Mara sayang kalian, selamanya ….”

Manusia menghidupi kehidupan yang sama. Yakni penuh masalah. Tidak ada yang membuat seseorang berbeda dari yang lainnya. Karena masalah hidup meratakan bahkan melumpuhkan mimpi dan harapan mereka yang menggunung. Menarasikan kehilangan tidak baik bagi mereka yang merasakannya juga, menghidupi hidup yang selayaknya adalah usaha terbaik untuk mengobatinya. Bagaimana pun juga, yang pergi tak akan pernah kembali. Sebelum terjadi, setidaknya beri mereka kesempatan untuk berpamitan.

            -Dari yang tak dianggap, Mara. Pahit.

Penulis: @mitchellsitepuu

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn