Cerpen – Jika Pengakuan Adalah Segalanya by Mitchell Naftaly

“Mara pura-pura sakit, biar kalian perhatikan Mara, tapi, toh, besok paginya kalian kirim perawat untuk jaga Mara. Kalian pergi sejauh mungkin untuk menghindari perasaan yang sudah menjadi luka lebar. Kalian hidup bersama dengan bayang-bayang Abang. Kalau Ibu bilang Mara berlebihan, mari koreksi lagi, Bu, siapa sebenarnya yang berlebihan.”

Cerpen – Jika Pengakuan Adalah Segalanya by Mitchell Naftaly

Aku benar-benar lepas kendali atas emosiku. Mataku menahan air yang terus memanas, dan sesekali butirannya keluar deras, bajuku basah mengenai lukaku. Perih.

“Semua orang tahu kita kehilangan Abang, tapi yang hidup dalam penyangkalan selama tiga tahun hanya kalian berdua, dan bukan berarti yang lainnya nggak kehilangan Abang. Coba lihat lagi Bu, barangkali Ibu keliru waktu bilang Mara berlebihan, yang berlebihan itu kalian Bu, bukan Mara.”

“Mara!”

“Ibu juga nggak pernah tanya gimana keseharian Mara. Yang Ibu lakukan hanya bolak-balik ke makam Abang. Ibu sadar, kalau Ibu udah lama nggak khawatir sama Mara. Dan, baru kemarin pertama kalinya setelah tiga tahun Abang pergi. Jadi, Bu, Mara hanya menyampaikan apa yang Mara pikul selama ini. Ibu sarapan aja, Mara udah kenyang, Mara mau istirahat dulu, Bu.”

Aku sama sekali tak menyentuh sarapan yang dibuat oleh Ibu. Mulutku masih saja membual berucap aku kenyang, padahal sebenarnya tenagaku sudah terkuras habis, tidak hanya dari dalam, bahkan dari luar pun seperti ada terjangan ombak yang hendak menarikku ke palung laut dalam.

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn