
“Sekarang lo jujur aja deh, lo ada hubungankan sama Adam?” Asep meruncingkan matanya, Asep seperti mendesakku agar mengakui hal yang tak aku lakukan.
“Nggak! Gosip dari siapa sih itu!?” Air mataku sepertinya tak lama lagi akan keluar, ini benar-benar membuatku tertekan, semua orang tak ada yang memihakku, mereka seperti berkerja sama untuk memusuhi aku, bahkan teman terdekatku sekalipun menghiraukan aku dan malah asyik membaca novel.
Aku benar-benar cenggeng, air mataku menetas dengan derasnya. Aku malu, aku tertekan, dan aku tak tahu harus apa sekarang. Aku kembali ke tempat dudukku di pojok sana, sambil mengusap air mata yang menetes tadi.
“Enak nggak? Nggak punya temen?” Celetuk Ananya yang menutup novelnya dan menatapku dengan kemarahan.
“Kamu kenapa lagi? Aku bener-bener binggung kenapa semua orang marah padaku?”
Artikel yang sesuai:
“Zal, aku tahu, hari minggu kemarin kamu main sama Rini tanpa ngajak aku kan? Rini itu anak kelas sebelah, sedangkan aku teman sebangku kamu, bahkan aku yang selalu ada buat kamu. Tapi kamu seolah-olah lupa itu dan main tanpa ada aku.” Ini benar-benar drama, mengapa hanya karna itu dia marah?
“Rini ngajaknya dadakan, an. Aku udah berniat mengajak kamu lalu aku menelpon kamu, tapi kamu tak mengangkatnya.” Ananya memasang headsetnya dan pergi tanpa sepatah kata pun.
Aku nangis sejadi-jadinya, rasanya aku tak bisa bernapas dengan benar di ruangan ini. Mata-mata tajam itu masih melirikku, aku ingin keluar dari sini, tetapi aku harus menahannya hingga jam sekolah berakhir.
Aku terus menahannya, hingga waktu pulang sekolah tiba, aku menghembuskan napas legaku. Akhirnya aku bisa pergi di ruang sesak ini. Satu langkah lagi aku keluar dari kelas. Seseorang menarik tanganku dan menutup pintu kelas dengan rapat.
Ada letupan yang mengeluarkan kertas warna-warni. Semua orang di dalam kelas bersorak ria mengucapkan selamat ulang tahun untukku dalam balutan tawa mereka, Ananya membawa kue tart putih dan di atasnya terdapat lilin yang menyala. Apakah keanehan hari ini sudah direncakan? Mereka semua sangat menguras emosiku, aku tak berpikir akan seperti ini.
“Maapkan kami ya, itu semua hanya akal-akalan kami aja”
Aku malu sekaligus bahagia. Aku tak bisa mengendalikan air mataku. Mereka sungguh menyebalkan tapi perhatian.
“Tapi, apakah hubungan Adam dan pacarnya benar-benar putus?” tanyaku pada mereka.






