
Menjelang jam 5 tepat, Alisha baru selesai mengganti jas OSIS dengan jaket denimnya. Acara selesai di akhiri dengan beberes aula yang amat kacau. Namun, langkahnya terhenti tepat di depan ruang rapat.
Dari ujung lorong sana, Alisha dapat melihat Mas Rasyid berjalan dengan beberapa kawannya. Laki-laki itu terlihat tertawa. Sudut-sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk seutas senyum yang meneduhkan.
Cerpen – Hati-hati di Jalan by Sri Cicik Nurita
Seperti sebuah sihir, gemuruh dalam dadanya kembali bergejolak. Kali ini lebih hebat. Jantungnya berdegup lebih cepat dari pada tadi. Bahkan di waktu yang krusial seperti ini, Alisha dapat merasakan perasaan itu kembali muncul ke permukaan. Debaran yang selalu membuatnya seperti kehilangan akal sehat.
Namun, lagi-lagi kenyataan itu kembali menyadarkannya. Alisha menghela napas, lalu berbisik kepada dirinya sendiri. “Kamu sendiri yang memutuskan untuk menyukainya, jadi kamu juga harus bisa mengatasinya.”
Gemuruh dadanya perlahan-lahan reda, namun kini matanya justru terasa panas. Kemudian dengan langkah pasti, perempuan itu kembali berjalan menyusuri lorong.
Artikel yang sesuai:
Tepat ketika dia dan Mas Rasyid bersimpangan, tepat ketika alas sepatu mereka bersamaan berpijak pada lantai, satu tetes bulir bening berhasil jatuh dari pelupuk matanya. Dengan hati yang perih bukan main, Alisha berbisik untuk dirinya sendiri…
“Kepergian akan terus terjadi. Tuhan tahu yang terbaik untuk kamu. Bisa jadi setelah dia menjauh dari kamu, pergi dari lingkunganmu, Tuhan akan memberi kamu sesuatu yang baru. Yang pastinya lebih besar dari pada yang kamu punya waktu lalu.”
Setelah berjalan cukup jauh, Alisha berhenti melangkah. Hanya untuk berbalik menatap punggung Mas Rasyid yang perlahan-lahan menghilang di makan jarak.
“Hati-hati, pada jalan apa saja yang kamu lewati.” Setidaknya, hanya kalimat itu yang bisa ia ucapkan. Sebelum semuanya benar-benar tidak bisa ia kendalikan.
Penulis: Sri Cicik Nurita






