Cerpen – Aku Bukan Jodohnya by Sri Cicik Nurita

Cerpen - Aku Bukan Jodohnya by Sri Cicik Nurita

Dia tampak geming di tempat. Tak lama kemudian dia turun dari atas motor setelah mengantongi kembali ponselnya ke dalam saku jaket. “Tumben banget tanya gitu. Kenapa emangnya?”

Kini, giliran aku yang terdiam. Perlahan-lahan, aku menghampirinya yang sekarang duduk di sebuah gubuk bambu yang beberapa bagiannya telah habis dimakan rayap dengan langkah pelan. Seolah memastikan bahwa setiap langkah yang aku ambil tidak akan menimbulkan dampak apapun, bagi Dahayu maupun aku.

“Penasaran aja sih. Tapi nggak mungkin juga kamu nggak punya penyesalan sama sekali dalam hidup kamu.” Balasku ketika aku sudah duduk di sampingnya yang masih diam. Masih sama seperti tadi, Dahayu tidak menoleh ke arahku sama sekali. Dia juga tidak banyak bicara hari ini. Bahkan ketika aku membawa tangan kirinya untuk aku genggam, perempuan itu tidak memberikan respon apapun kecuali helaan napasnya yang panjang. “Aku cuman pengen tahu.”

Kami terdiam, cukup lama. Membiarkan isi kepala ku dan isi kepalanya menguasai pikiran masing-masing. Entah benar atau tidak, aku mendapatkan pendar redup dari matanya yang tajam. Tatapan mata itu kini telah kosong. Memandang langit yang perlahan-lahan berubah menjadi biru muda dengan tatapan sendu.

“Sha,” Tepat ketika Dahayu menyebutkan namaku, secara spontan aku menoleh ke arahannya yang ternyata dia sedang melakukan hal yang sama kepada diriku.

“Aku nggak tahu apa yang ada dalam pikiran kamu sampai kamu tanya gitu ke aku. Tapi Alisha, kamu ingat nggak kata Abi waktu itu? Abi pernah bilang, nggak ada penyesalan yang berada di awal. Penyesalan ada untuk menentukan langkah selanjutnya setelah kamu melakukan hal itu. Entah penyesalan yang membuat kamu semakin terpuruk atau penyesalan yang membuat kamu bangkit dari keterpurukan.”

Jawaban Dahayu benar-benar di luar dugaan. Ini jelas di luar pikiranku. “Kalau kamu beneran nyaman sama Mas Rasyid, bilang ke dia yang sebenarnya. Jangan di pendam kelamaan karena itu nggak baik. Aku nggak ingin kamu berandai-andai dengan jawaban yang nggak pasti gimana kalau kamu nggak bilang suka sekarang ke dia.”

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn