
Dua minggu berlalu, semua berjalan seperti biasa. Miko juga sudah masuk sekolah kembali, sejauh ini aku tidak pernah mendengar jika Miko membuat masalah lagi, syukurlah ternyata dia menuruti perkataanku waktu itu.
Hari ini ada pertandingan futsal antar kelas. Aku sudah dari tadi duduk di pinggir lapangan untuk melihat Miko bermain. Aku melihat Miko dan teman-temannya berjalan ke arah lapangan. Dia tersenyum padaku saat dia melihat ku.
Kemudian tim dari kelas lain juga bergabung dengan tim Miko. Lawan Miko adalah 2 IPS 3 yang diketuai oleh Deri.
Pertandingan dimulai, semua berjalan lancar tetapi hal yang tidak diinginkan terjadi. Tiba-tiba saja Miko memukul Deri hingga dia jatuh. Aku tidak tahu penyebabnya apa. Aku berlari ke tengah lapangan mengikuti semua murid yang mulai menghampiri mereka.
Aku melihat jika Miko terus saja memukul Deri, aku menarik lengan Miko agar dia menghentikan perbuatannya. Beberapa murid menolong Deri dan membawanya ke ruang UKS. Sedangkan Miko, ku tarik dia untuk mengikutiku menuju kelas.
Artikel yang sesuai:
“Apa yang kamu lakukan?” tanya ku saat kami sampai di dalam kelas.
Dia hanya diam, mengatur emosi nya. Miko tidak menatap ku dia melihat ke lain arah.
“Aku pikir kamu mulai mendengarkan apa yang kukatakan waktu itu”
Miko juga tidak mengatakan kata-kata apa pun untuk membela dirinya, dia hanya memegang sudut bibirnya yang terlihat membiru. Aku melihatnya, ada sedikit darah yang keluar dari sudut bibirnya.
Rasa khawatir ku mulai timbul, aku ingin mengobati luka itu tetapi dengan aku melakukan itu Miko semakin tidak akan mendengarkan aku.
“Aku ingin kamu berubah, sedikit saja kamu dengar apa yang tante Aya dan aku katakan untuk mengurangi keras kepalamu” Miko sama sekali tidak menanggapi ucapan ku.
“Miko kamu dengar aku gak sih” ucap ku mulai emosi.
Dia melihat ku dengan tatapan yang sulit ku artikan, mungkin emosi nya kembali muncul mendengar ucapan ku.
“Selesai ngomong nya, Aku mendengar semua yang kamu katakan, semua yang mama dan kamu inginkan, aku tahu itu. Aku mencoba untuk menjadi yang kalian inginkan” dia berhenti sejenak.
“Tapi apa kamu pernah mengerti apa yang aku rasakan, kamu selalu memaksakan keinginan kamu, mengekang aku. Tulus tidak seperti ini Tari. Tulus bukan untuk mengekang seseorang. Tulus juga bukan untuk memaksakan keinginan yang sepihak” ucapnya, aku mencerna semua yang dikatakan Miko.






