
Beberapa hari kemudian. Sendu menyelimuti setiap sudut rumahku. Tembok dan tiangnya yang kokoh perlahan menangis saat harus melepasku. Aku hanya terbaring kaku, melihat Ayah yang kini menangis dalam kelu. Ada apa ini?
Tatap kosong Ayah menceritakan segalanya. Penyesalan demi penyesalan terus mengusik hari beserta malamnya. Ia sungguh kesal dengan dirinya. Berandai waktu dapat diulur, agar ia hadir pada hari kelulusan terakhirku. Ia ingin ada di sampingku. Bersorak bangga saat mendengar namaku.
15 Juni telah berlalu. Saat di mana kekosongan resmi menjadi teman sejatiku. Ia selalu ada di sampingku. Tak seperti dirumu, Ayah.
Penulis: Zaskia Zahwa Tsamara





