
“Syifa, sekarang kamu sedang berjalan di atas pasir. Kamu tidak bisa melihat pasir, namun kamu bisa rasakan kalau pasir itu halus dan lembut menyusuri jari-jari kakimu bukan?” jelas mama
“Iya mama,” jawabku seadanya.
Mama lalu menuntunku kembali. Kurasakan kakiku basah oleh air dan aku mencium bau pasir bercampur air. Ditambah angin yang lembut membuat suasana hatiku menjadi tenang. Beserta suara yang saling sahut menyahut.
“Air laut itu asin namun tetap menyenangkan. Bau pasir bercampur asin membuat hidung mencium hal yang terasa nikmat. Suara yang saling menyahut itu adalah ombak. Kamu mungkin tidak melihatnya Syifa, namun bukan berarti dia tidak ada. Ombak itu bagai pelukan sayang mama padamu setiap hari, atau elusan lembut saat mama mengelus kepalamu.”
Tidak berhenti sampai di sana. Setelah puas mengenalkan aku dengan lautan, mama pergi mengajakku ke tempat lain. Bau lain yang terasa enak kuhirup kembali. Bau yang membuat air liurku basah. Kemudian mama memegang tanganku lagi.
“Mama membawakan makanan untuk kita. Ini ada ikan bakar dan juga roti yang baru saja di panggang. Ini coba cium roti ini,” seru mama. Aku meraih roti itu dan mulai menciumnya. Harum sekali. Tanpa menunggu mama langsung saja aku memakan roti itu. Ah… Rasanya manis namun agak sedikit asam. Ini rasa pisang. Aku tahu karena mama pernah mengenalkan aku tentang buah ini. Enak sekali.
Artikel yang sesuai:
“Enak bukan? Roti ini dibuat oleh orang di sini dan roti yang baru Syifa makan adalah roti yang baru selesai dipanggang. Rasa enak dari roti itu menegaskan kalau dia ada. Bahkan meski tidak bisa dilihat Syifa, roti itu tetap ada.”
“Yuk makan lagi, ini masih ada ikan bakar. Syifa bisa mencium aroma ikan ini bukan? Walau agak gosong tetapi baunya tetap terasa enak.”
Air mataku mulai membasahi pipi. Mama lalu mengusap kedua pipiku sambil mengelus kepalaku. Aku begitu sedih karena sempat ingin meninggalkan dunia ini. Padahal, meski aku tidak bisa melihat apapun, dunia ini nyata dan ada.
“Syifa sayang. Mama ingin kamu sadar bahwa meski kamu tidak bisa melihat dunia, dunia ini tetap ada Syifa. Bau roti, suara ombak, rasanya berjalan di atas pasir, semilir angin yang sejuk, bisa kamu rasakan dengan jelas. Mama juga. Walau kamu tidak bisa melihat mama, kamu masih bisa mendengar suara mama. Merasakan pelukan mama. Tahu kalau mama selalu mencintaimu. Jadi mama mohon mulai hari ini jangan merasa sendirian. Mama ada di sini.”






