
Mereka pernah jahil meninggalkan aku sendirian di kelas padahal semua orang sudah pulang. Memberikan aku makanan basi, bahkan merebut buku milikku. Aku lelah. Aku ingin pergi saja. Aku sudah siap jika Tuhan marah padaku dan memasukkan aku ke dalam nerakanya. Namun sebelum kakiku lepas dari ketinggian, seseorang menarikku kembali dan memelukku dengan eratnya.
“Kamu kenapa Syifa! Kamu tega sama mama. Kamu mau meninggalkan mama sendirian.
Jangan melakukan hal itu sayang. Tenang saja, mama ada di sini.” Mama memelukku erat sekali dan bisa kurasakan punggungku mulai basah karena air matanya. “Mama, sebenarnya untuk apa Syifa hidup? Syifa bahkan tidak bisa melihat wajah mama. Syifa tidak tahu Syifa ada di mana. Semua orang selalu merendahkan Syifa. Syifa senang ada juga yang baik dan mau membantu Syifa jika kesulitan, namun Syifa malu mama. Syifa ingin bisa bermanfaat bagi orang lain tetapi, apa daya.
Syifa justru selalu membuat orang lain kerepotan termasuk mama.” Diam. Mama tidak bicara. Kemudian sambil memeluk aku kembali, mama berkata “Besok ikut mama ya Syifa. Mama akan mengajarimu melihat.” Itu saja yang beliau katakan kemudian mama menuntunku kembali ke kamar tidur.
Benar saja, keesokan harinya mama menepati janjinya. Mama sengaja meminta izin dari Bu guru agar aku tidak perlu sekolah hari ini. Aku naik ke mobil bersama mama dan kami pergi. Kurasakan angin yang menerpa wajahku. Kata mama, angin tidak pernah bisa kita lihat namun bisa kita rasakan sejuknya. Lama sekali kami berjalan. Kemudian akhirnya mama menghentikan mobilnya. Dia menuntun aku untuk berjalan kembali.
“Buka sandalmu Syifa,” perintah mama. Aku hanya melakukan apa yang mama suruh dan sekarang kakiku terasa penuh tanah. Lembut dan halus. Walau aku jadi agak berat berjalan namun aku menikmati semuanya.





