
Chalinda mengembuskan napas kasar. Memang susah jika sudah berurusan dengan Raygon. Alhasil, ia yang harus memungut kaleng itu dan membuangnya di tempat sampah yang berada dekat dengan mereka.
“Masuk BK lagi?” tanya Chalinda meski ia sudah tahu jawaban pasti dari laki-laki itu.
Raygon tertawa kecil. “Lo enggak usah nanya pertanyaan yang lo udah tahu jawabannya.”
“Bolos jam pelajaran terus menerus enggak akan ngerubah hidup lo,” celetuk Chalinda.
“Gue yang bolos kok lo yang repot?” Kini Raygon menaikkan kaki kanannya dan ia taruh di paha kirinya.
Artikel yang sesuai:
“Sadar, Ray. Sekali lo berulah lo langsung double kill tahu enggak? Pertama merugikan diri lo sendiri. Kedua merugikan orang tua lo.” Chalinda masih cukup sabar untuk saat ini.
Tanpa memedulikan ucapan Chalinda, Raygon justru kembali merebahkan tubuhnya di atas kursi dengan paha Chalinda sebagai bantalnya.
“Lima menit, Cha.”
Chalinda membiarkan Raygon tertidur. Meskipun ia tahu, Raygon hanya memejamkan mata. Seakan tak tahan dengan keheningan, gadis itu kembali membuka siaranya.
“Perbuatan lo itu salah, Ray. Gue bingung harus gimana lagi supaya lo sadar dan mau berubah.”
Hening yang tadinya terjadi kini berubah begitu saja saat Chalinda mendapat telpon dari Pak Razos—ayahnya Raygon.






