
“Aku gak pernah tergambar dalam ekspektasi kamu, ya? sekali pun gak pernah jadi yang kamu mau? bahkan kalau ini kali terakhir kita ketemu, aku tetap gak pernah jadi yang kamu cari?” Surya masuk dalam puncak emosi. Mengeluarkan sedikit rasa terpendam karena ini saat yang tepat untuk menyelesaikannya.
“Maksudnya gak gitu, Sur.” Riani menghentikan Surya. Seakan melarangnya untuk terus mengutarakan kenyataan yang tak ingin Riani perjelas eksistensinya.
“Aku paham, Riani. Aku yang terlalu berharap untuk hubungan kita. Aku terlalu berharap kita bisa jadi sesuatu yang lebih dari sekadar sahabat.” Surya tersenyum getir. Sama seperti sang surya yang sebentar lagi akan tenggelam di ufuk barat, senja hari ini juga memaksa perasaannya terbenam.
“Sur…” Panggil Riani pelan. Dia takut ucapannya melukai hati pemuda itu lebih banyak.
“Apa alasan kamu gak mau sama aku?” Surya bertanya tanpa mengindahkan panggilan dari Riani.
Artikel yang sesuai:
Gadis itu bimbang. Jari tangannya bergerak gelisah, tak beraturan, tenggelam bersama bingung. Tak ingin berucap namun laki-laki berambut panjang ini mengharap jawaban rasional yang dapat diterima oleh otak dan hati.
“Aku takut kehilangan kamu. Aku takut kehilangan sesuatu yang lebih berharga dari hidupku. Kalau kita gak diciptain buat bersama, aku takut perpisahan kita jadi akhir dari segalanya.” Riani menjawab dengan tenang. Dia memberi jawaban atas sebuah kejujuran, berdasarkan perasaan yang sebenarnya.
Surya terdiam, kemudian diikuti dengan senyum kecil. Manik matanya perlahan melirik Riani yang masih menatap lurus ke depan. Menyaksikan matahari yang terbenam dengan perlahan.
Tampaknya Riani menyayanginya lebih dari kekasih. Ia disayangi lebih besar dari yang diharapkan. Sore ini Surya mendapat sebuah pengakuan yang mahal. Ia mendapatkan sesuatu yang lebih dari harapannya. Pengakuan berharga.
“Biarin kita tetap jadi kita. Tetap jadi Surya dan Riani yang sering dikira anak kembar,” Surya tersenyum sambil mengusap rambut Riani hingga gadis itu menepis tangannya. “Kita makan ayam bakar aja, yuk?” ajak Surya setelah langit telah sepenuhnya gelap.
Ajakan tersebut disambut dengan tawa oleh Riani. Keduanya mengubah posisi duduk dan melesat meninggalkan pinggir jalan layang yang malam ini diterangi oleh lampu jalan.
Mereka berkendara menuju warung makan dengan gembira. Seolah tak terjadi apa-apa. Kembali menjadi sepasang sahabat seakan hal ini tak pernah terjadi.
Penulis: Fira Nabila Putri






