
Hujan turun dengan lebat, suara bergemuruh terdengar dimana-mana. Bagiku ini menenangkan. Mengingat masa lalu itu sungguh menguras tenaga, kau tau? Ponselku menyala menampilkan isi chat yang berisi “Untuk kondisi Anda ini, sebaiknya sudah ditangani dengan terapi obat obatan dan psikoterapi dengan psikiater offline, ya”. Ironi.
Disaat segalanya tampak menyeret ku ke dalam jurang keputusasaan, cahaya datang padaku. Dengan susah payah aku menggenggam cahaya itu meskipun penuh sesak.
Cerpen – Min Verden by Adhina Tabryana
Cahaya itu adalah perjuanganku sendiri. Yang bisa menyelamatkanku hanyalah diri sendiri. Meskipun susah payah, rasa sesak memenuhi paru-paruku. Melepas belenggu ku satu persatu. Layaknya seorang anak yang mengambil langkah demi langkah. Namun, kali ini ia hanya memiliki dirinya sendiri.
Membersihkan serpihan kaca dalam hatiku. Agar tak ada lagi seseorang yang tersakiti saat masuk ke dalamnya. Aku kehilangan terlalu banyak, bahkan aku kehilangan diriku sendiri. Tenggelam dalam harapanku sendiri, aku susah payah berenang ke tepian untuk menyelamatkan diri.
Bagaimana jika kau dipaksa merelakan kehilangan dirimu sendiri. Ini tak adil, aku sudah merelakan segalanya. Cinta, teman, keluarga, bahkan impian. Tetapi mengapa aku tak bisa menggapai apapun? Bahkan di ujung penderitaan ini pada akhirnya aku kehilangan diriku. Aku mencoba merelakannya, kehilangan sosok diri sendiri.
Artikel yang sesuai:
Jalanku kini penuh keraguan, menutup mata tak membuatku melupakan segalanya. Ungkapan ‘Kau sekarang berubah’ menjadi melodi baru yang selalu kudengar dari arah mata angin mana pun.
Saat segalanya menjadi berwarna monoton, lama kelamaan aku kehilangan warna dalam hidupku. Seseorang menggenggam tanganku yang hampir tenggelam dalam air yang keruh. Aku mendapatkannya. Hartaku, separuh jiwaku, tujuan hidupku, alasan, segalanya bagiku.






