Cerpen – Jika Pengakuan Adalah Segalanya by Mitchell Naftaly

“KAMU DENGAR IBU, MARA?” Anak panah ketiga menembus tubuhku. Air mataku tertahan di ujung sana, ia hendak tumpah. Pipiku memerah, bibirku bergetar.

Perihal pertanyaan Ibu, itu bukan karena penasaran. Aku yakin. Ibu hanya ingin tahu soal Abang dari sudut pandangku. Sementara manusia sentimental sepertiku, jika sudah terseret ke dalam teritori yang seperti ini, pasti hanya bisa kehujanan, membasahi pipi, dan ketakutan dalam diam.

“Jawaban seperti apa yang Ibu mau dari Mara?” Air mataku jatuh bebas, layaknya dedaunan musim gugur di pinggir jalan. “Ibu mau Mara jawab apa? Apa Mara harus jawab kalau tadi pagi Mara bertengkar dengan Ayah karena perihal Abang? Iya?

Cerpen – Jika Pengakuan Adalah Segalanya by Mitchell Naftaly

Ibu mau Mara jawab kalau tadi pagi Mara bahkan nggak tahu Mara lagi bicara apa. Ibu mau Mara jawab kalau semua salah Mara? Kalian sibuk itu salah Mara? Abang pergi itu karena ulah Mara?” Aku terisak sambil terus menatap Ibu. “Jawaban seperti apa yang Ibu mau dari Mara?”

Ibu tersenyum sinis, dan memalingkan wajahnya. “Nggak perlu kamu jawab juga Ibu udah tahu kalau sikapmu seperti ini.”

“Apa yang Ibu tahu?” Aku marah pada Ibu, suaraku terdengar sedikit memberontak.

“Kamu nggak perlu sok menasehati ayahmu, Mara!”

“Mara bukan menasehati Ayah, Bu. Mara hanya menerangkan apa yang Mara rasakan.”

“Dengar Mara, jangan mengusik kehidupan seseorang, jika kehidupanmu, toh, tak diusik sama sekali.”

“Aku pengusik, Bu?” Nada suaraku melemah, tiba-tiba saja air mataku mendobrak lagi keluar, segera kuseka dengan gerakan kasar.

“Jadi apa yang kau bilang pada Ayahmu?”

“Percakapan kita sebenarnya akan mengarah ke mana, Bu?”

“Tak perlu lari Mara, jawab saja pertanyaan Ibu.”

“Mara harus jawab apa, Bu? Jawaban seperti apa yang Ibu mau?”

“Kau tak perlu merasa terganggu hanya karena tingkah Ayahmu yang masih belum merelakan abangmu, anak kesayangannya, Mara.”

“Mara juga anak Ayah, Bu.” Aku menggigit bibirku, berusaha menahan diri agar tak lagi menangis.

“Tapi, tak perlu juga menyinggung teritorinya. Kau tahu dia masih kehilangan.”

“Bukan hanya Ayah, Ibu juga!” Aku menaikkan nadaku kembali, lalu kembali diam sejenak.

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn