Cerpen – Jika Pengakuan Adalah Segalanya by Mitchell Naftaly

“Bicara apa kamu tadi pagi sama Ayah?” tanya Ibu sembari meletakkan piring di hadapanku, dan menuang nasi juga telur yang baru masak.

“Mara?”

“Ya, Ibu bertanya sama siapa lagi, kan, hanya ada kamu di dapur ini.”

Cerpen – Jika Pengakuan Adalah Segalanya by Mitchell Naftaly

“Mara hanya ngobrol biasa sama Ayah, Bu,” jawabku ketus. Aku benci suasana canggung ini. Lakon yang terjadi di panggung dapur ini bukan hanya sekadar kepura-puraan, juga potret tidak menyenangkan dari hubungan ibu dan anak.

“Iya … Tentang apa?” Ibu bersikeras dan sedikit membentakku sambil menyodorkan sarapan.

“Abang!” jawabku tak kalah tegas.

“Kamu nggak usah kasih doktrin yang aneh-aneh ke ayahmu!” Ibu duduk di hadapanku. Dia hanya melipat kedua tangannya, dan enggan sarapan bersama denganku.

“Doktrin?” Aku langsung heran dan terkejut dengan tuduhan Ibu.

“Kamu bilang apa aja ke Ayah?”

Aku mengaduk-aduk nasi. “Ini maksudnya apa ya, Bu?

“Lho, kok kamu balik bertanya? Ibu lagi nunggu jawabanmu.”

Aku bungkam. Hidangan yang tersedia di depanku sama sekali tak mengundang lapar. Hanya air putih yang kuambil tadi yang terus kuteguk sekarang dan sudah hampir habis.

“Mara?”

Bahkan, di saat seperti ini, aku merasa suara Ibu sama sekali bukan sesuatu yang mampu meneduhkan saat Ibu memanggil namaku.

“MARA?” Ibu menaikkan nada suaranya, anak panah kedua tertancap dalam ke bilik jantungku.

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn