Cerpen – Jika Pengakuan Adalah Segalanya by Mitchell Naftaly

Air mataku hendak menerjang keluar. Sekuat tenaga aku menahan agar tak ada setetes pun yang turun. Aku masih bertanya, terlihatkah bentuk dan rupaku? Apa aku terlalu kasat mata bagi mereka yang selalu mementingkan perasaan kehilangannya bahkan setelah tiga tahun berlalu?

“Iya, aku juga rindu Abang.” Aku berbohong. Air mataku jatuh dan kuseka sesegera mungkin, beruntung suasana di sini sedang remang.

“Seandainya Abang di sini, Ayah–”

Cerpen – Jika Pengakuan Adalah Segalanya by Mitchell Naftaly

“Mara yang di sini, Ayah,” aku menyela Ayah, “kalau kalian selalu berandai-andai tentang Abang, terus Mara ini apa?” Sialan. Air mataku terjun bebas. Mengapa tak pernah bisa tertahan sekali saja?

“Apa maksudmu?”

“Nggak kebalik, Yah? Harusnya Mara yang tanya itu … Apa maksud kalian terus mengungkit peristiwa kepergian Abang? Tiga tahun kita hidup tanpa dia, dan kalian selalu menyangkal kepergiannya.

Pernah Ayah tanya kabar Mara persis Ayah tanya kabar abang? Apa Ayah pernah khawatir sama Mara? Pernah Ayah sekali aja coba perlakukan Mara sebagai anak Ayah?” Aku terisak, dadaku seperti ada batu raksasa yang menekan di atasnya.

“Kamu kenapa?”

“Bukan Mara yang kenapa. Kalian yang kenapa?”

“Kamu cemburu?”

“Ayah bilang apa? Cemburu?” aku menghadap Ayah, “berarti aku dan abang ternyata pilihan, bukan kepemilikan? Iya, Yah? Ayah sadar nggak, sih, kalau anak kalian itu bukan hanya Abang. Mara udah tiga tahun hidup sebatang kara. Setiap kali kita makan, kalian siapkan piring dan sendok, bahkan bangku di sebelah Mara untuk Abang. Hati kalian berandai-andai, semisal Abang pulang. Kamar Abang selalu dibersihkan, tak dibiarkan satu barang pun beranjak dari tempatnya. Mara kesepian, Yah, tapi yang dipedulikan selalu Abang,” aku terisak lebih dalam, bajuku basah.

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn