
Denting melesat laju saat aku baru saja terbangun dari mimpi buruk itu. Ada orang asing yang berdiri di podium untuk menerima piala utama. Aku tak mengenalinya. Namun, yang pasti, wajahnya dipenuhi dengan rasa bersalah. Bersalah kepada orang-orang yang dipaksa menyerah agar ia dapat meraih posisinya. Menjadi juara.
“Ada apa denganmu, Yuki?”
Aku menatap sekitar, ternyata seisi kelas tengah memperhatikanku. Dengan wajah bingung, Miss Dee menghampiriku. “Kau tak apa-apa, Yuzuki?”
Tanpa menjawab pertanyaan guru kelas itu, sorot mataku seketika tertuju pada waktu di jam dinding. 15.15. Aku seharusnya tidak berada di sini. Aku pasti tertidur saat masa peralihan kelas.
“Maaf, Miss. Aku sepertinya telah salah kelas. Seharusnya saat ini aku berada di lab fisika untuk bimbingan kompetisiku beberapa hari lagi. Permisi!”
Artikel yang sesuai:
Dengan tergesa-gesa, kedua kaki kecil ini mengantarku ke gedung yang seharusnya tempat keberadaanku sedari lima belas menit lalu. Terdengar satu dua suara yang menyapa. Aku tak sempat membalasnya. Aku benar-benar sibuk sekarang.





