
Sebagai pecinta karya sastra, tentu kita pernah bertemu dengan cerita yang membuat penasaran atau membawa kejutan di bagian akhir. Semua itu dapat terjadi karena adanya alur cerita atau plot di dalamnya.
Alur merupakan rangkaian peristiwa yang penulis susun sedemikian rupa agar terasa menarik, hidup, dan tidak membosankan ketika sampai ke tangan pembaca. Namun, masih banyak pembaca atau penulis pemula yang berasumsi jika alur cerita hanya ada dua jenis, yaitu alur maju dan alur mundur.
Daftar isi
Toggle6 Jenis Alur Cerita Novel atau Cerpen yang Perlu Diketahui
Melalui artikel ini, kita akan mengenal lebih dalam jenis-jenis alur cerita novel atau cerpen. Harapannya, setelah membaca informasi ini, teman-teman mampu memahami struktur cerita yang efektif dan terinspirasi untuk menghasilkan karya tulis dengan alur yang menarik.
Penasaran apa saja alur-alur tersebut? Yuk, kita bedah satu per satu lewat penjelasan di bawah ini:
Artikel yang sesuai:
1. Alur Cerita Maju
Jenis alur cerita yang pertama ini sudah sering kita jumpai dan paling mudah pembaca ikuti yakni alur cerita maju atau progresif. Sesuai namanya, jalan cerita ini bergerak lurus ke depan, dimulai dari tahap perkenalan, munculnya konflik, hingga mencapai puncak tegangan di akhir cerita. Penulis menyusun setiap kejadian secara berurutan dan teratur dari prolog sampai epilog.
Membaca novel atau cerpen yang memiliki alur ini seperti sedang menonton perjalanan hidup seseorang. Cerita diawali ketika tokoh utama masih kecil, kemudian menjadi remaja yang mulai merasakan cinta, tumbuh dewasa, hingga menjadi tua dan tutup usia. Seluruh peristiwa terjadi secara natural mengikuti rotasi waktu.
Konflik atau masalah yang tokoh utama hadapi dalam alur cerita maju juga dikisahkan secara bertahap. Konflik akan timbul perlahan di tengah kehidupan tokoh utama, sampai berada di titik klimaks, lalu teratasi sebelum cerita benar-benar selesai.
2. Alur Cerita Mundur
Kebalikan dari alur maju, alur cerita mundur (regresif) berfokus pada masa lalu tokoh utama. Penulis tidak memulai cerita dari periode waktu saat ini, melainkan mengajak pembaca untuk menelisik kembali berbagai peristiwa yang sudah berlalu agar mereka bisa mengerti mengapa situasi hari ini dapat terjadi.
Salah satu hal unik dari alur ini adalah pembaca langsung dihadapkan pada masalah atau konflik di bab pertama. Setelah itu, alur bergerak mundur ke masa lampau untuk mengungkap akar permasalahan tersebut. Jadi, susunan alur cerita bermula dari masa kini kemudian mundur ke garis waktu sebelumnya.
Contohnya, kisah seorang detektif yang telah lama pensiun dari dunia kepolisian. Di halaman awal, kita akan bertemu dengan pensiunan detektif yang sedang duduk santai di halaman belakang, lalu mulai bernostalgia dan menggambarkan kembali kisah masa mudanya yang penuh perjuangan mengungkap kasus kriminal.
3. Alur Cerita Campuran
Sesuai dengan istilah yang dipakai, alur cerita campuran adalah kombinasi antara dua metode sekaligus, yakni maju dan mundur. Jenis alur ini bersifat dinamis, cerita bisa dimulai dari masa kini, mendadak melompat jauh ke masa lalu, dan kemudian kembali ke masa sekarang.
Ketika cerita sedang berada di masa lampau, penulis memanfaatkan momen tersebut untuk menjelaskan rahasia yang belum terungkap atau latar belakang salah satu karakter. Begitu selesai, cerita akan berbalik ke garis waktu utama supaya cerita terus bergerak ke depan.
Intinya, cerita novel atau cerpen dengan alur campuran biasanya diawali dari bagian konflik. Setelah itu, pembaca akan diajak menengok peristiwa di masa lalu yang menyebabkan konflik tersebut terjadi, akhirnya kembali ke masa depan untuk melihat penyelesaian dari kisah tersebut.
4. Alur Sorot Balik (Flashback)

Banyak yang beranggapan bahwa alur sorot balik atau flashback serupa dengan alur cerita mundur, tapi nyatanya berbeda. Alur sorot balik adalah teknik bercerita yang mendahulukan bagian akhir atau puncak cerita berada di bagian paling awal. Saat pembaca sudah penasaran dengan akhir tersebut, barulah awal kisah dikisahkan.
Penulis sengaja memakai alur ini untuk menimbulkan kesan dramatis. Kerangka cerita dimulai dari puncak masalah (klimaks), turun ke penyelesaian sementara (antiklimaks), melompat ke bagian akhir, lalu mundur ke bagian rumit, dan kembali ke awal mula semua hal terjadi.
Alur ini tidak sekadar mundur secara rapi atau teratur. Alur flashback mirip seperti potongan teka-teki yang sengaja penulis siapkan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih seru.
5. Alur Klimaks
Jenis alur cerita novel atau cerpen berikut ini penulis rancang untuk membuat ketegangan pembaca berada di level maksimal. Dalam alur klimaks, pembaca tidak akan menemukan masalah besar di awal, melainkan akan merasakan ketegangan yang penulis ciptakan sedikit demi sedikit.
Umumnya, cerita bermula pada kejadian-kejadian biasa yang tampak normal dan tenang. Namun, seiring bertambahnya halaman, berbagai kejadian tersebut mulai berubah menjadi rangkaian peristiwa penting yang membuat rasa penasaran semakin meningkat.
Setiap bab baru pada novel beralur klimaks akan membuat jantung lebih berdebar kencang dari bab sebelumnya. Puncak dari seluruh ketegangan ini penulis letakkan di bagian penutup sebagai ledakan utama yang menjawab rasa ingin tahu pembaca.
6. Alur Anti-Klimaks
Berbeda dari alur klimaks, alur anti-klimaks adalah jalan cerita yang rentetan peristiwanya dibuat menurun. Jenis alur cerita ini menghadirkan kejadian fenomenal, paling menegangkan, atau masalah yang utama tepat di bagian awal cerita.
Setelah mengejutkan pembaca dengan peristiwa besar di awal, ketegangan cerita perlahan-lahan akan bergerak menurun. Berbagai peristiwa yang terjadi selanjutnya tidak terlalu menegangkan seperti bagian pembuka, tapi beralih ke hal-hal yang lebih tenang dan cenderung tidak menguras emosi.
Di bagian akhir, novel atau cerpen dengan alur anti-klimaks akan berisi rangkaian kejadian yang terkesan biasa-biasa saja atau kembali ke keadaan normal. Inti dari alur ini adalah menunjukkan proses para tokoh di dalam cerita menata kehidupan setelah mengalami badai besar.
7. Alur Cerita Kronologis
Jenis alur cerita novel maupun cerpen yang terakhir adalah alur cerita kronologis. Sesuai namanya, alur cerita ini memiliki susunan peristiwa yang bergerak teratur mengikuti urutan waktu yang sebenarnya. Pembaca akan sangat menyukai cerita ini karena tidak ada tergencat masa lalu atau masa depan yang membingungkan.
Karakteristik utama dari alur kronologis adalah keberadaan petunjuk waktu yang sangat detail dan spesifik di dalam buku. Penulis akan sering menyebutkan hitungan jam, menit, detik, nama hari, tanggal, bulan, atau pergantian tahun yang menentukan urutan peristiwa.
Lewat alur ini, pembaca dapat memahami dengan tepat kapan suatu peristiwa terjadi. Sampai sekarang, banyak penulis karya sastra yang masih mengandalkan alur kronologis ini.
Nah, itulah uraian tentang enam jenis alur cerita atau plot yang biasa digunakan penulis pada novel atau cerpen karya mereka. Semoga setelah membaca artikel ini, wawasan dan pengetahuan teman-teman seputar salah satu unsur intrinsik karya sastra ini semakin bertambah, ya!






