
Secara sederhana, kita bisa mengartikan majas sebagai teknik penulisan cerita yang unik yaitu dengan membandingkan satu hal dengan hal lainnya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), majas dipakai untuk melukiskan perasaan atau situasi lewat kata-kata atau kiasan. Tujuannya supaya tulisan tampak lebih bernyawa dan menarik bagi siapa pun yang membacanya.
Dalam dunia sastra, terutama puisi, majas merupakan elemen yang sangat sering kita jumpai. Majas memberikan sentuhan artistik yang membuat bahasa dalam puisi terasa lebih indah dibandingkan dengan bahasa sehari-hari. Hal inilah yang membedakan puisi dengan karya tulis lain seperti berita di koran atau pesan singkat di media sosial.
Daftar isi
Toggle6 Jenis Majas dalam Puisi yang Akan Memperindah Karyamu
Melalui artikel ini, kita akan membahas lebih dalam mengenai enam jenis majas yang biasa penyair pakai dalam puisi. Selain untuk keindahan, majas juga berfungsi untuk membangun suasana yang ingin penulis gambarkan, entah itu perasaan sedih, bahagia, rindu, ataupun penuh semangat.
Penasaran apa saja majas-majas tersebut? Yuk, kita simak penjelasannya satu per satu di bawah ini:
Artikel yang sesuai:
1. Majas Hiperbola
Jenis majas yang sering penyair pakai ketika menulis puisi adalah majas hiperbola. Dengan gaya bahasa yang berlebihan atau dramatis, penyair memanfaatkan majas ini untuk memberikan penekanan yang kuat pada suatu situasi. Hal yang sebetulnya biasa saja dapat digambarkan dengan hebat melalui hiperbola.
Majas hiperbola memiliki tujuan utama untuk memancing emosi pembaca agar turut merasakan suasana hati yang sedang penyair alami. Contohnya, saat penyair merasa sangat bahagia, ia tidak hanya berkata “aku senang sekali”, namun menggunakan kalimat yang mencerminkan suka cita yang mampu menerbangkan diri hingga langit ke tujuh.
Contoh lainnya bisa kita tengok ketika seseorang memuji mata kekasihnya yang berkilau bak permata hingga ia merasa tidak patut untuk menatapnya. Secara akal sehat, mata tentu tidak benar-benar mengeluarkan cahaya yang berkilauan, tapi pemakaian kata tersebut sukses menyatakan kekaguman sang penyair. Hiperbola membuat perasaan yang abstrak menjadi tampak sangat nyata berwujud.
2. Majas Personifikasi
Setelah hiperbola, majas yang sering digunakan dalam penulisan puisi selanjutnya yaitu personifikasi. Majas ini bersifat cukup unik karena memberikan sifat-sifat manusia kepada benda-benda mati atau makhluk hidup lain. Berbagai benda seperti meja, angin, atau awan dapat digambarkan seolah-olah mereka memiliki perasaan dan bertingkah laku seperti kita.
Penulis puisi memakai majas personifikasi untuk membangun koneksi antara alam semesta dan perasaan manusia. Misalnya, ketika membaca puisi tentang “kuas yang menari di atas kanvas” atau “bunga mawar yang sedang bersedih”, kita sedang melihat personifikasi bekerja. Benda mati yang tertulis tadi seakan-akan menjadi karakter hidup yang memiliki peran penting dalam puisi.
Contoh lainnya, kalimat tentang “hujan yang membujuk pulang” saat seseorang sedang lelah menunjukkan bahwa alam turut bersimpati dengan keadaan yang kita alami. Hujan dalam arti sebenarnya hanyalah air yang jatuh dari langit, namun dalam puisi, hujan digambarkan mempunyai perasaan untuk menenangkan manusia.
3. Majas Metafora
Metafora merupakan majas atau gaya bahasa yang membandingkan dua hal secara langsung tanpa menggunakan kata sambung “seperti” atau “bagai”. Majas ini cara paling elegan untuk menyamakan dua hal yang berbeda namun memiliki kesamaan makna dan rasa. Dengan perbandingan yang tersirat, pembaca diajak untuk berpikir sejenak mengenai persamaan di antara kedua hal yang berbeda tadi.
Dalam puisi, metafora sering penyair manfaatkan untuk menyederhanakan konsep yang rumit menjadi sesuatu yang lebih mudah dimengerti/dibayangkan. Contohnya, menyebut seseorang sebagai “kuda hitam” berarti orang tersebut memiliki kemampuan yang tidak terduga dalam kompetisi. Metafora membuat kata-kata menjadi lebih padat, singkat, tapi punya makna yang sangat dalam.
Contoh umumnya penggunanaan majas yaitu penyair menyebut kekasihnya sebagai belahan jiwa. Hal ini bukan merujuk bahwa sang kekasih merupakan setengah bagian dari jiwanya, melainkan ekspresi cinta dan hubungan emosional yang penyair rasakan kepada sang kekasih.
4. Majas Simile
Jenis majas yang sering dipakai dalam berpuisi selanjutnya yaitu simile. Sama dengan metafora, majas simile juga penyair terapkan untuk membandingkan dua hal.
Perbedaannya, terletak pada cara penyampaiannya yang lebih terang-terangan atau eksplisit. Salah satu ciri khas majas ini adalah selalu menggunakan kata penghubung seperti “bak”, “laksana”, “seperti”, atau “umpama” untuk menunjukkan bahwa terdapat kesepadanan antara dua objek yang sedang dibicarakan.
Penggunaan simile membuat perbandingan dalam puisi menjadi lebih jelas dan mudah ditangkap oleh pembaca. Kita tidak perlu berusaha menebak-nebak lagi karena penulis sudah memberikan kata kunci “seperti” sebagai penghubung maknanya. Gaya bahasa ini memberikan irama yang indah pada setiap bait puisi sehingga terdengar lebih merdu saat dibacakan.
Salah satu contohnya adalah saat suara burung gereja disamakan dengan senandung irama yang membawa kita terbang ke alam mimpi. Melalui kata “seperti”, kita langsung paham bahwa suara burung itu memiliki kualitas yang sama indahnya dengan musik yang menenangkan.
5. Majas Epifora
Jenis majas yang satu ini sedikit berbeda dengan majas-majas yang telah dijelaskan sebelumnya. Majas epifora berfokus pada pengulangan kata atau kelompok kata yang sama di setiap akhir baris atau kalimat. Bukan karena penyair kehabisan kata-kata, pengulangan ini bertujuan untuk memberikan efek magis dan penekanan pada pesan yang ingin disampaikan.
Selain itu, epifora juga dipakai untuk membentuk irama yang konsisten. Dengan begitu pembaca akan terus teringat pada kata yang diulang-ulang tersebut.
Contohnya dapat kita lihat dari kalimat yang diawali dengan kata “hati ini”. Meskipun keadaan di masa depan akan berubah-ubah, tetap akan selalu ada satu hal yang sama, yaitu perasaan yang ada di dalam hati.
6. Majas Litotes
Kebalikan dari hiperbola, litotes merupakan majas yang panyair pakai untuk mengecilkan atau merendahkan sesuatu. Secara umum, orang menggunakan litotes untuk menyampaikan kenyataan dengan cara yang sopan dan tidak berlebihan. Walaupun realitasnya mungkin cukup baik, penyair sengaja menggambarkannya seolah-olah sangat sederhana atau kurang.
Dalam puisi, litotes diterapkan untuk menunjukkan kerendahan hati sang tokoh atau penyair. Cara halus ini berguna untuk menarik simpati pembaca tanpa harus terlihat pamer (sombong). Litotes membuktikan bahwa perumpamaan tidak selalu harus terdengar megah, tapi bisa juga terlihat sangat membumi dan menyentuh perasaan lewat kesederhanaan.
Contoh prafa dalam buku puisi yang sering kita dengar adalah “mencari sesuap nasi”. Maksud utama dari kalimat tersebut sebenarnya mencari rezeki yang cukup untuk membiayai kebutuhan hidup, tidak hanya untuk mengejar satu suap nasi. Dengan majas ini, perjuangan hidup seseorang terasa lebih dramatis tapi tetap tampak rendah hati di mata pembaca.
Nah, itulah penjelasan rinci tentang enam majas yang paling sering penyair gunakan untuk membuat puisi agar lebih bermakna. Semoga setelah membaca artikel ini, teman-teman mampu menemukan perbedaan cara bercerita antara puisi, novel, dan cerpen karena padatnya majas dalam bait-bait puisi.
Bagi kalian yang berprofesi sebagai penulis diharapkan dapat mengoptimalkan penggunaan majas untuk menyampaikan pesan dengan cara yang lebih kreatif dan indah. Tetap semangat dan terus berkarya, ya!






