Cerpen – Langit Putih Jingga by Putri Esa Septia

Langit Putih Jingga

“Jangan gitu dong, yang.” Kamu merajuk, menyenderkan kepalamu di leherku.

“Jadi ingat deh masa SMA dulu, waktu kamu daftar ekskul pecinta alam. Aku pikir cewek mungil modelan gini pasti bakal jadi beban doang kalau mendaki.” Aku hanya diam, mendengarkan.

Cerpen – Langit Putih Jingga by Putri Esa Septia

“Segala cara aku lakukan supaya kamu nyerah sama ekskul ini. Mulai dari nyuruh kamu lari di lapangan sebanyak tiga puluh kali, yang aku kira mungkin kamu bakal langsung nyerah waktu itu.”

“Tapi nyata nya aku bisa, kan?” tanyaku percaya diri.

“Kamu bener-bener bikin aku kagum, Sa. Semakin kuat aku bikin kamu nyerah, semakin kuat pula kamu tunjukkin ke aku bahwa perspektif yang selama ini aku bangun ke kamu itu salah. Dan gilanya lagi, aku malah jatuh cinta sama kamu.”

“Semesta punya cara unik untuk menyatukan kita, Ram.”

Langit mulai gelap, senja hampir hilang dari permukaan. Tanganmu perlahan bergerak menyusuri jari jemariku, keduanya saling bertautan.

“Salsa,” panggilmu, “Aku minta maaf ya, dulu aku menyakitimu. Kalau saja aku bisa mutar waktu pasti—”

Aku menggeleng dan memelukmu. “Jangan mutar waktu ya, Ram. Biarkan aja semuanya tetap begitu. Aku justru lebih takut kalau takdir nggak membawa kamu padaku,” jelasku.

“Rama, boleh aku minta sesuatu?” pintaku.

“Selalu iya buat istriku.”

Aku menenggak ludah, menarik nafas dalam. Dadaku bergemuruh kencang. “Ram, tolong kasih tahu aku. Kamu ada dimana?” air mata ini jatuh, tak mampu untuk kubendung.

Perlahan senja yang indah itu menghilang sepenuhnya. Membawa kamu pergi, meninggalkan aku sendiri.

Penulis: @putriiesaa

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn