
“Pra sering bercerita tentangmu,” tambahnya.
Aku tercengang, kebingungan dengan empat kata yang ia rangkai. Pasalnya aku dan Prameswari tidak berteman dengan baik. Kami memang saling mengenal selama tiga tahun aku bekerja di kantor yang sama dengannya, namun di divisi berbeda. Aku sibuk dengan deret angka di divisi keuangan, sedang Prameswari lihai dengan ide-ide marketingnya yang begitu brilian.
Cerpen – Langis by YH Harahap
Tak ada yang begitu berkesan dengan hubungan kami sebagai rekan. Setidaknya tidak dalam ingatanku. Prameswari sosok yang ramah, aku tahu ia dan rekan kerja lainnya sering menghabiskan waktu bersama di luar kantor. Sedang aku akan memilih mengemas secepat kilat barangku, tidak pernah terlambat sedikit saja untuk jam pulang. Begitu juga jam masuk, aku selalu tepat waktu.
Maka jika aku hadir dalam ceritanya kepada orang lain, itu hanya sesederhana obrolan lalu, seperti ia menceritakan tentang rekan-rekan kantor lainnya.
“Setidaknya dulu, dua tahun lalu. Sebelum ia menikah.”
Artikel yang sesuai:
Dan, di sinilah pertanyaan itu hidup. Laki-laki bermata kelam ini kenapa begitu hancur melebihi suami Prameswari yang semua orang tahu seberapa romantis pasangan itu.
Prameswari, si perempuan beruntung. Begitu semua orang menyebutnya. Ia berhasil bekerja di perusahaan saat usianya masih 21 tahun, saat itu ia masih menyusun tugas akhir. Usia 24 tahun ia sudah menjabat sebagai supervisor termuda.
Bukan hanya karirnya yang melejit hingga menduduki kepala marketing di usia 28 tahun, tapi juga proyek yang ia pegang tidak pernah memasuki kata gagal. Prameswari seperti dewi keberuntungan yang dimiliki perusahaan.





