8 Ciri Karya Tulis Nonfiksi yang Perlu Kamu Ketahui

8 Ciri Karya Tulis Nonfiksi yang Perlu Kamu Ketahui

Menyusun karya tulis nonfiksi sebetulnya tidak serumit yang kita bayangkan. Dengan catatan, kita memahami landasan utamanya, yaitu fakta. Berbeda dengan novel atau cerpen yang terlahir dari imajinasi, nonfiksi hadir untuk menyampaikan informasi yang memang nyata terjadi. Mulai dari artikel berita, buku sejarah, hingga resep masakan, semuanya harus bisa dipastikan sekaligus dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Namun, sekadar menulis fakta tidak cukup untuk menghasilkan buku yang berkualitas. Ada beberapa ciri khusus yang membedakan karya tulis nonfiksi dengan jenis tulisan lainnya yang perlu kita pahami.

8 Ciri Karya Tulis Nonfiksi yang Perlu Kamu Ketahui

Melalui artikel ini, kita akan mempelajari beberapa ciri atau karakteristik karya tulis nonfiksi secara umum. Harapannya, setelah membaca keseluruhan informasi ini, teman-teman dapat mengenal lebih dekat buku nonfiksi dan memperoleh manfaat saat membacanya. Penasaran apa saja ciri-cirinya? Mari kita telaah penjelasan di bawah ini:

1. Menggunakan Bahasa Formal atau Baku

Berbeda dengan novel yang sering memakai bahasa gaul atau percakapan sehari-hari, kaya tulis nonfiksi wajib menggunakan bahasa yang formal. Maknanya, setiap diksi yang dipilih harus mengikuti aturan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Selain agar terlihat profesional, hal ini juga dilakukan agar pesan bisa tersampaikan dengan jelas kepada siapa pun pembacanya.

Bersifat formal bukan berarti selalu kaku atau membosankan. Ada beberapa jenis tulisan nonfiksi seperti buku motivasi atau self improvement yang menggunakan gaya bahasa lebih luwes dan ringan. Meskipun bahasanya cenderung sopan, jika cara penyampaiannya dapat dibuat senyaman mungkin, buku nonfiksi dapat mudah dicerna oleh pembaca awam.

2. Memakai Bahasa dengan Makna yang Sebenarnya (Denotatif)

Selain menggunakan bahasa formal, ciri karya tulis nonfiksi yang kedua yaitu memakai bahasa denotatif. Hal ini berarti bahwa setiap kata yang tertulis mempunyai arti yang sebenarnya atau tidak mengandung kiasan serta makna ganda (ambiguitas). Hal ini sangat penting supaya membaca bisa langsung mengerti maksud penulis dan tidak terjadi salah tafsir.

Misalnya, dalam buku nonfiksi penulis menyebutkan kata “kaki tangan”, maka yang dimaksud adalah anggota tubuh manusia atau hewan, bukan orang yang diperalat. Dengan gaya bahasa yang terkesan jujur dan objektif seperti ini, informasi yang penulis tulis menjadi lebih akurat. Penulis bisa menyusun kalimat secara langsung dan jelas karena fokus utamanya adalah menyampaikan fakta atau kebenaran.

3. Tulisan Berdasarkan Fakta dan Data

Bila karya fiksi tercipta dari hasil imajinasi atau khayalan, maka buku nonfiksi merupakan kumpulan realitas. Semua informasi yang termuat di dalamnya diambil berdasarkan kejadian nyata atau hasil riset yang sangat detail. Penulis dilarang keras menambahkan bumbu cerita atau mengurangi fakta hanya agar tulisan tampak lebih menarik.

Proses penyusunan buku ini pun tidak sembarangan karena bisa memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun untuk riset. Selain membutuhkan biaya yang cukup menguras kantong, penulis juga harus mengikuti metode analisis yang tepat dan tidak diperbolehkan melakukan plagiarisme. Jadi, apa yang kita baca dalam buku nonfiksi merupakan hasil kerja keras yang bisa dibuktikan dan dipertanggungjawabkan kebenarannya.

4. Menyajikan Informasi Terkini

Salah satu ciri utama karya tulis nonfiksi adalah berperan sebagai pembawa berita atau ilmu pengetahuan terbaru yang masyarakat butuhkan. Sering kali, buku ini hadir untuk melengkapi atau memperbarui informasi yang sudah ada sebelumnya. Hal ini sangat berguna agar pembaca bisa terus mengikuti perkembangan zaman, baik yang berkaitan dengan fenomena sosial maupun teknologi.

Contohnya, bisa kita lihat pada buku panduan belajar aplikasi komputer. Jika muncul versi perangkat lunak yang lebih baru, penulis biasanya akan mengeluarkan edisi revisi untuk menjelaskan fitur-fitur terkini. Jadi, pembaca tidak akan pernah ketinggalan informasi dan tetap bisa mempraktekkan ilmu tersebut sesuai dengan perkembangan zaman.

5. Isinya dapat Dibuktikan

8 Ciri Karya Tulis Nonfiksi yang Perlu Kamu Ketahui

Semua yang tertulis dalam karya tulis nonfiksi harus bisa dibuktikan kebenarannya melalui verifikasi data. Selain bersifat logis dan masuk akal, isinya juga harus objektif yang jauh dari pendapat pribadi atau curhatan penulis. Apabila terdapat data di dalamnya, maka perlu diverifikasi atau diuji agar pembaca merasa aman sekaligus percaya dengan apa yang mereka baca.

Oleh karena itu, penulis buku nonfiksi pantang memasukkan unsur subjektif atau perasaan pribadinya ke dalam teks. Mencampurkan opini tanpa dasar yang kuat, akan membuat kredibilitas buku tersebut turun di mata pembaca.

6. Ditulis oleh Para Pakar

Menulis karya tulis nonfiksi memerlukan otoritas dan kompetensi khusus, jadi tidak bisa ditulis oleh sembarang orang. Penulis buku ini merupakan pakar yang sudah punya pengalaman, keahlian, atau latar belakang pendidikan di suatu bidang tertentu. Hal ini sangat penting supaya informasi yang disebarkan benar-benar akurat dan tidak menyesatkan para pembacanya.

Bayangkan kalau buku tentang kesehatan reproduksi ditulis oleh orang yang tidak paham medis, maka hasilnya akan sangat berbahaya. Oleh karena itu, buku-buku ilmiah atau akademis seperti kedokteran atau hukum selalu disusun oleh dokter atau praktisi hukum profesional. Pendidikan dan jam terbang mereka menjadi jaminan bahwa isi buku tersebut kredibel, berkualitas, dan membawa dampak positif bagi masyarakat.

7. Memuat Informasi tentang Ilmu Pengetahuan

Ciri karya tulis nonfiksi selanjutnya yaitu memuat informasi yang berkaitan tentang ilmu pengetahuan. Pada dasarnya, buku nonfiksi memiliki tujuan besar untuk memajukan berbagai disiplin ilmu, mulai dari bahasa, matematika, hingga psikologi.

Informasi yang terkandung di dalamnya bukan sekadar karangan, melainkan dipetik dari berbagai referensi tepercaya seperti jurnal ilmiah, penelitian, atau tesis. Setiap bab berisi penjelasan mengenai hubungan sebab-akibat yang disusun secara mendalam dan sistematis.

Dengan membaca buku nonfiksi, kita diajak untuk menelaah suatu fenomena secara lebih utah dan teratur. Tidak ada ruang untuk menerka-nerka di sini, karena semua penjelasan sudah berdasarkan sumber yang jelas. Hal inilah yang menjadikan buku nonfiksi sebagai rujukan utama dalam dunia pendidikan maupun pekerjaan.

8. Gaya Penulisan Ilmiah Populer

Walaupun isi tulisan nonfiksi berbobot dan berdasarkan ilmu pengetahuan, cara penulis menyampaikannya sering kali menggunakan gaya penulisan ilmiah populer. Artinya, berbagai diksi atau istilah-istilah yang sulit diterjemahkan ke dalam bahasa yang lebih umum agar masyarakat awam pun dapat menikmatinya. Tujuannya yaitu supaya ilmu yang penulis sajikan tidak berat atau terasa membosankan saat dibaca.

Gaya penulisan ini bersifat deskriptif dan terasa dekat dengan keseharian pembaca. Penulis berusaha menjembatani antara kompleksitas teori dengan pemahaman orang biasa melalui bahasa yang sederhana dan mengalir. Melalui gaya penulisan seperti ini, semakin sering kita membaca buku nonfiksi, semakin luas pula wawasan yang kita dapatkan tanpa merasa didikte.

Nah, itulah penjelasan mengenai delapan ciri karya tulis nonfiksi yang perlu kita pahami bersama. Semoga setelah membaca artikel ini, wawasan dan pengetahuan teman-teman terkait dunia literasi semakin bertambah, ya!

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn