
Fakta menyakitkan kembali Chalinda dengar. Ternyata Raygon pernah berpikir untuk menjadi dirinya yang dulu. Menjadi seorang remaja pembangkang yang tak pernah mendengarkan kata gurunya. Berbuat seenaknya tanpa memedulikan dampak buruk yang terjadi pada dirinya. Lebih parahnya lagi, mengikuti pelajaran sesuka hati. Yang paling Chalinda ingat adalah, bagaimana Raygon datang ke sekolah sesuai keinginannya. Bahkan Raygon pernah datang ke sekolah saat pukul 11 siang.
“Cha …”
Panggilan itu membuat Chalinda membalikkan badannya. Di tangan Chalinda masih membawa beberapa buku untuk ia taruh di rak.
Setelah melihat Raygon, Chalinda kembali menaruh buku-buku tersebut ke rak yang ada di hadapannya.
“Kenapa?”
Artikel yang sesuai:
Raygon mengambil alih buku-buku yang dipegang oleh Chalinda.
“Lo marah?” tanya Raygon.
“Iya! Lo malah pergi aja, gue yang repot ngembaliin buku-buku lo. Mana banyak lagi.”
“Sorry, Cha.”
“Enggak perlu. Raygon yang dulu enggak pernah minta maaf.” Chalinda segera beranjak dari tempatnya. Tetapi, tangan Raygon begitu cepat menahan tangan Chalinda.
“Gue berubah pikiran. Gue enggak mau jadi Raygon yang dulu lagi.”






