
Aturan penulisan angka dan bilangan dalam bahasa Indonesia telah ditetapkan melalui Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Namun sayang, masih banyak di antara kita yang masih melakukan kesalahan atau belum memahami aturan penulisannya yang benar.
Memahami dan menerapkan aturan ini sangat penting, terutama bagi seorang penulis. Kualitas dan kredibilitas seorang penulis tidak hanya dinilai dari pemikirannya, tetapi juga dari ketelitian serta ketepatan kaidah kebahasaan dalam karya yang dihasilkan.
Daftar isi
ToggleCara Penulisan Angka dan Bilangan yang Benar sesuai PUEBI
Melalui artikel ini kita akan mempelajari beberapa cara penulisan angka dan bilangan yang benar sesuai dengan PUEBI. Harapannya, setelah membaca informasi ini, teman-teman dapat menerapkan aturan ini dengan baik serta dapat menghindari kesalahan yang sering orang lain lakukan. Agar semakin paham, mari kita simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Apa itu Angka dan Bilangan?
Angka adalah simbol atau lambang yang kita pakai untuk mewakili suatu nilai, seperti angka 0 sampai 9. Sementara itu, bilangan merupakan kumpulan angka yang mempunyai nilai tertentu dan berfungsi dalam proses perhitungan.
Artikel yang sesuai:
Jadi, perbedaan keduanya terletak pada kedudukannya, angka berperan sebagai simbol penyusun, sedangkan bilangan memiliki tugas untuk menyatakan nilai yang dibentuk oleh deretan angka tersebut.
Bagaimana Cara Penulisan Angka dan Bilangan yang Sesuai PUEBI?
Berikut adalah beberapa cara penulisan angka dan bilangan yang benar sesuai PUEBI.
1. Bilangan satu sampai dua kata ditulis menggunakan huruf
Secara umum, apabila suatu bilangan hanya terdiri dari satu atau dua kata, sebaiknya kita memakai huruf. Namun, jika angka tersebut muncul secara berurutan dalam sebuah daftar atau dipisahkan dengan koma, tetap harus menuliskannya dalam bentuk angka agar lebih cepat dan mudah dibaca.
Contoh:
- Lukman membeli tiga porsi pisang coklat di warung dekat kantor penerbitan itu.
- Ayu sudah mengajar selama lima tahun di sekolah tersebut.
- Tim A berhasil mendapatkan juara pertama dan hadiah uang senilai satu juta rupiah.
2. Menulis bilangan di awal kalimat menggunakan huruf
Setiap kali berada di awal kalimat, sebuah bilangan wajib kita tulis menggunakan huruf. Hal ini sesuai dengan aturan PUEBI yang melarang penggunaan angka langsung sebagai kata pertama.
Contoh:
- Tiga puluh siswa dari sekolah itu berhasil memperoleh beasiswa dari Bupati setempat.
- Dua kelompok tari dari Surabaya akan berangkat ke Belanda untuk mengikuti lomba.
Namun, bila bilangan terdiri dari dua kata, sebaiknya kita perlu mengubah struktur kalimat agar angka tidak berada di awal kalimat melainkan di tengah.
Contoh:
- Sebanyak 26 siswa menjadi korban keracunan makanan.
- Perpustakaan sekolah menyediakan 50 buku baru dengan berbagai macam genre.
3. Angka yang sangat besar boleh dikombinasikan
Ketika harus menuliskan angka yang sangat besar, kita dapat memakai kombinasi angka dan huruf secara bersamaan. Cara ini membuat tulisan tampak lebih ringkas dan mudah dibaca serta dipahami dengan cepat.
Contoh:
- Pak Dedi memperoleh hadiah uang tunai 100 juta rupiah dari acara kuis televisi.
- Bibi belum bisa melunasi hutangnya yang sudah mencapai 50 juta rupiah.
4. Penulisan satuan ukuran dan nilai uang dengan huruf
Untuk hal-hal yang berkaitan dengan ukuran, seperti panjang, berat, luas, volume, hingga waktu, kita harus menuliskannya dengan angka. Hal yang sama juga berlaku untuk nominal uang. Namun, khusus uang dengan jumlah yang sangat besar, kita boleh memakai kombinasi angka dan huruf agar lebih praktis dan gampang dibaca.
Contoh:
- 50 sentimeter
- 10 liter
- 5 kilogram
- 3 jam 25 menit
- Rp24.000,00
5. Nomor alamat dan bangunan selalu menggunakan angka
Apabila menulis alamat rumah, nomor jalan, kamar hotel, atau nomor apartemen, aturannya yaitu selalu gunakan angka. Penulisan identitas lokasi seperti ini memang dirancang menggunakan bentuk angka supaya jelas dan tidak menimbulkan salah paham bagi orang yang membaca.
Contoh:
- Chika tinggal di Jalan Karangasem No. 19.
- Shafa menginap di Hotel Mekar Sari, kamar 104.
6. Aturan penulisan nominal rupiah
Penulisan nominal rupiah punya aturan khusu yang cukup ketat. Diawali dengan huruf kapital “Rp” tanpa tanda titik dan tanpa spasi sebelum angka nominalnya. Penggunaan tanda titik hanya untuk memisahkan setiap kelipatan ribuan agar pembaca tidak salah menghitung jumlah nolnya.
Contoh:
- Rp2.000
- Rp45.500
- Rp310.000
- Rp5.250.000
7. Angka yang berakhiran -an memakai tanda hubung
Kadang-kadang kita perlu menyatakan dekadensi tahun atau perkiraan jumlah dengan tambahan “-an” di belakangnya. Jika kita menuliskannya dengan angka, jangan lupa untuk menyisipkan tanda hubung (-) di antara angka dan akhiran tersebut. Fungsinya untuk menyambungkan angka dan imbuhan agar tampilannya terlihat sebagai satu kesatuan kata.
Contoh:
- Pak Ahmad sudah berjualan sate sejak tahun 1990-an.
- Bu Minah menjual gorengannya seharga 1000-an.
8. Menyatakan urutan atau tingkatan
Untuk menunjukkan tingkatan atau urutan, kita memiliki beberapa opsi cara penulisan. Bisa memilih menggunakan angka Romawi, menuliskannya lengkap dengan huruf, atau memakai angka biasa (Arab) yang diawali “ke-“. Pilih salah satu gaya yang paling cocok dengan dokumen atau konteks tulisan kita.
Contoh:
- Abad ketiga
- Abad ke-19
- Abad XXI
- HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81
Apa Perbedaan Fungsi Angka dan Bilangan?

Berikut adalah tabel yang berisi penjelasan ringkas mengenai perbedaan angka dan bilangan.
Aspek Pembeda | Angka | Bilangan |
| Arti Utama | Simbol atau lambang grafis. | Konsep nilai, jumlah, atau kuantitas. |
| Fungsi Utama | Sebagai penanda, kode, atau penyusun nilai. | Sebagai penegas jumlah, nilai, atau posisi . |
| Analogi | Seperti huruf (A, B, C) dalam penyusunan kata. | Seperti kata yang memiliki arti. |
| Penggunaan | Digunakan untuk penomoran, kode (misalnya, nomor ponsel, plat nomor kendaraan, nomor rumah, kode pos). | Dipakai dalam perhitungan matematika, pengukuran (berat, panjang), dan menyatakan harga. |
| Sifat Nilai | Tidak selalu menyatakan jumlah/kuantitas (misal: angka 0859 pada nomor ponsel tidak berarti jumlah). | Memiliki nilai kuantitatif yang dapat dihitung, ditambah, atau dikurangi. |
| Jumlah Simbol | Terbatas (0-9) | Tidak terbatas (contohnya, 10, 100, 1.500, 1.000.000, dst.). |
| Contoh | Simbol 7 pada “Kamar No. 7” sebagai identitas atau kode. | Nilai 7 pada “Ibu membeli 7 buah apel” bermakna jumlah. |
FAQ Seputar Penulisan Angka dan Bilangan
Berikut adalah beberapa pertanyaan sekaligus jawaban yang berkaitan dengan cara penulisan angka dan bilangan sesuai PUEBI.
Q1: Kesalahan apa yang sering terjadi saat menuliskan angka dan bilangan?
- Membuka kalimat dengan angka. Lebih baik mengawalinya dengan huruf.
- Meremehkan aturan penulisan ribuan yang seharusnya dipisah menggunakan tanda titik (.). Contohnya, menulis 3000 yang seharusnya 3.000.
- Menulis pecahan yang seharusnya ¾ menjadi 3:4.
Q2: Kapan angka Arab bisa kita gunakan dalam teks?
Angka Arab (0, 1, 2, 3 dan seterusnya) dapat kita pakai untuk menyatakan ukuran panjang, berat, luas, isi, waktu, nilai uang, kuantitas, serta nomor alamat dan jalan. Selain itu angka A
Q3: Apakah angka romawi masih dipakai dalam kaidah ejaan?
Ya. Angka Romawi masih bisa kita gunakan untuk menyatakan tingkatan, bab, atau penomoran resmi. Contohnya, Abad XIV, Bab V, dan Presiden Indonesia ke-VI.
Nah, itulah paparan mengenai cara penulisan angka dan bilangan yang sesuai PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia). Semoga setelah membaca artikel ini, wawasan dan pengetahuan perihal kaidah tata Bahasa Indonesia semakin bertambah, ya! Selamat berkarya dan sukses selalu!






