Kebiasaan Buruk Penulis yang Menghambat Kreativitas dan Produktivitas

Kebiasaan Buruk Penulis yang Menghambat Kreativitas dan Produktivitas

Banyak orang yang beranggapan bahwa kehabisan ide atau writer’s block adalah hambatan terbesar seorang penulis. Padahal, musuh utama dan nyata berada di dalam diri penulis sendiri, yakni berbagai kebiasaan buruk yang sering tidak disadari. Menunda-nunda pekerjaan atau terlalu perfeksionis merupakan dua contoh perilaku yang perlu penulis hilangkan.

Apabila tidak segera diatasi, kebiasaan buruk penulis ini dapat menurunkan kreativitas dan produktivitas secara perlahan-lahan. Kegiatan menulis yang awalnya menyenangkan dapat berubah menjadi beban yang memicu stres.

Kebiasaan Buruk Penulis yang Menghambat Kreativitas dan Produktivitas

Melalui artikel ini, kita akan membahas kebiasaan-kebiasaan buruk penulis satu per satu secara detail dan mendalam. Harapannya, setelah membaca artikel ini, teman-teman bisa mengenali apa saja tindakan tidak baik tersebut dan bisa mencari solusi untuk mengatasinya. Agar semakin paham, mari kita simak penjelasan lengkapnya berikut ini:

1. Jarang Membaca dan Melakukan Riset

Membaca dan menulis merupakan dua aktivitas yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Bila kita ingin menjadi penulis yang memiliki perbendaharaan kata serta sudut pandang yang luas, kita harus rajin membaca dan mencari informasi. Dengan adanya asupan dari buku atau referensi lain, daya pikir kita akan semakin kuat dan berkembang karena selalu diasah.

Banyak orang yang menyatakan bahwa penulis hebat awalnya adalah pembaca yang rakus. Pendapat tersebut benar adanya, karena membaca memang cara paling manjur untuk mengisi energi dan kreativitas seseorang.

Bahan bacaan tidak harus selalu buku yang tebal dan mempunyai ratusan halaman. Kita bisa mulai dari hal yang ringan seperti membaca artikel online, esai, berita di koran, atau bahkan cerita pengalaman orang lain di blog.

Kebiasaan buruk penulis dalam aspek ini adalah kurang konsisten dalam membaca dan melakukan riset. Cobalah untuk meluangkan sedikit waktu atau membuat jadwal harian khusus untuk membaca apa pun yang kita sukai. Lambat laun, kebiasaan ini akan membuat pola pikir kita lebih terbuka dan ide-ide segar akan mengalir dengan lancar.

2. Menunda-nunda Waktu untuk Menulis

Lawan berat seorang penulis selain malas membaca adalah suka menunda-nunda pekerjaan (prokrastinasi). Mayoritas penulis sering menggunakan alasan ingin menunggu momen yang tepat baru akan mulai menggerakkan jemari di atas keyboard. Jika terus-terusan menunggu situasi tenang atau inspirasi datang sendiri, waktu akan terbuang percuma.

Akibat buruk yang ditimbulkan dari tindakan menunda ini adalah hilangnya ide. Buah pikiran yang semula sudah matang di dalam kepala bisa hilang kalau tidak segera diproses. Selain itu, kebiasaan buruk ini juga sering membuat penulis merasa bersalah dan pusing, sebab target tulisan tidak pernah terealisasikan.

Sama dengan menumbuhkan konsistensi dalam membaca, kebiasaan ini dapat kita atasi dengan menyusun jadwal menulis harian yang santai dan logis. Misalnya, menulis 200 kata per hari atau 15 sampai 30 menit sehari. Cara ini dinilai sangat efektif untuk mengurangi beban pikiran, sehingga menulis terasa lebih ringan dan menyenangkan.

3. Terlalu Perfeksionis

Kebiasaan buruk penulis yang bisa menghambat kreativitas dan produktivitas yang ketiga yaitu sikap perfeksionis atau menuntut kesempurnaan sejak awal. Banyak penulis terjebak di sini karena ingin paragraf pertamanya langsung terlihat menakjubkan dan tanpa kesalahan. Hal ini justru menjadi penyebab proses menulis terhambat di tengah jalan.

Saat kita sering mengedit, menghapus, dan menulis ulang kalimat yang serupa berkali-kali, konsentrasi kita justru akan terpecah untuk memperbaiki hal-hal kecil yang sebenarnya dapat dikerjakan belakangan. Energi dan waktu kita akan luntur sebelum ide utama sempat tertulis seutuhnya.

Solusi terbaik untuk mengatasi permasalahan ini adalah membiarkan semua ide di kepala tercurah dalam kertas atau layar laptop tanpa perlu dikritisi. Bukan masalah jika draf pertama kita berantakan atau masih banyak kesalahan ketik (typo).

Tugas awal seorang penulis adalah menyelesaikan naskah secara tuntas hingga akhir. Setelah semuanya rampung kita bisa masuk ke tahap penyuntingan dan penerbitan.

4. Takut Dikritik dan Ditolak

Kebiasaan Buruk Penulis yang Menghambat Kreativitas dan Produktivitas

Takut dikritik dan ditolak adalah perasaan yang tidak jarang menghantui para penulis, terutama mereka yang baru terjun di dunia literasi. Rasa cemas jika naskah kita tidak mendapatkan perhatian penerbit atau memperoleh komentar negatif dari pembaca membuat nyali kita menciut seketika. Banyak karya yang sebenarnya bagus, namun pada akhirnya hanya tersimpan di dalam folder laptop tanpa pernah diterbitkan.

Padahal, bila kita mau mengubah cara pandang, kritik dan penolakan tersebut merupakan aspek yang menguatkan mental penulis. Lewat masukan atau saran tersebut, kita bisa mengetahui  letak kekurangan dan bagian yang harus diperbaiki. Tanpa adanya kritik yang jujur, setiap penulis tidak dapat berkembang dan meningkatkan kualitas tulisan atau cerita. .

5. Suka Membandingkan Diri dengan Penulis Lain

Di era digital dan media sosial seperti saat ini, kebiasaan buruk senang membandingkan diri dengan orang lain semakin tidak terkendali. Kita dapat dengan mudah memandang keberhasilan penulis lain yang bukunya laris terjual atau memiliki banyak pengikut.

Hal ini membuat kita merasa minder dan tidak percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki. Kita akan mulai ragu dengan kualitas tulisan sendiri, merasa karya yang kita hasilkan mempunyai nilai yang kurang.

Daripada menjadikan kesuksesan orang lain sebagai kambing hitam dan beban berat, manfaat hal ini sebagai pemicu semangat. Dengan kata lain, jadikan karya-karya hebat mereka sebagai inspirasi dan motivasi untuk menciptakan naskah yang berkualitas.

6. Tidak Memiliki Tujuan yang Jelas

Kebiasaan buruk penulis yang perlu dihilangkan berikutnya yaitu tidak memiliki tujuan yang jelas. Tidak sekadar ingin menyampaikan pendapat atau cerita, tujuan dalam menulis berfungsi sebagai kompas yang memandu kita sampai ke tempat yang diinginkan. Saat kita punya alasan yang kuat untuk menulis, kita tidak akan mudah menyerah meskipun sedang menghadapi tantangan maupun rasa malas.

Tanpa adanya tujuan, menulis hanya akan menjadi aktivitas biasa yang membosankan dan mudah ditinggalkan. Tujuan yang jelas akan menjaga kita untuk tetap konsisten di segala situasi dan membantu kita menghasilkan tulisan yang lebih berbobot dan terarah. Kita mampu memutuskan siapa yang ingin dijadikan target, gaya bahasa yang cocok, serta pesan apa yang ingin disampaikan.

7. Waktu Istirahat yang Kurang

Kebiasaan buruk yang sering kali penulis lakukan yaitu kurangnya waktu istirahat. Kreativitas tidak muncul secara instan hanya dengan mengandalkan otak yang dipaksa bekerja terus menerus. Ide-ide brilian justru lebih mudah datang ketika kondisi fisik dan mental kita dalam keadaan sehat serta bahagia.

Rasa lelah, kurang tidur, atau stres yang menumpuk, membuat daya konsentrasi kita menjadi kacau. Memaksakan diri untuk terus menulis dalam kondisi seperti ini tidak akan menghasilkan karya yang optimal.

Maka dari itu, jangan takut untuk mengambil jeda dan mengistirahatkan tubuh serta pikiran. Melakukan olahraga ringan, menikmati hobi, atau jalan-jalan santai merupakan contoh kegiatan yang bisa mengembalikan kesegaran pikiran.

Nah, itulah penjelasan mengenai tujuh kebiasaan buruk penulis yang mengganggu kreativitas dan produktivitas. Semoga setelah membaca artikel ini, teman-teman dapat menghindari sekaligus membuang kebiasaan-kebiasaan tersebut dan membangun rutinitas menulis yang lebih sehat.

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn