
Meskipun banyak tahapan yang harus dilewati, menerbitkan buku merupakan impian banyak orang. Namun, masih ada penulis yang memilih mempublikasikan karyanya tanpa ISBN.
Seperti yang kita ketahui, ISBN atau International Standard Book Number adalah identitas unik yang berupa kode 13 digit yang membantu buku bisa dikenali secara global. Apabila penulis menerbitkan buku tanpa ISBN, maka mereka akan kehilangan banyak kesempatan sekaligus mendatangkan sejumlah risiko.
Daftar isi
Toggle7 Risiko Menerbitkan Buku Tanpa ISBN
Melalui artikel ini, kita ajar mempelajari lebih lanjut apa saja risiko atau kerugian yang akan kita rasakan ketika menerbitkan buku tanpa ISBN. Harapannya, setelah membaca informasi ini, teman-teman penulis tidak lagi ragu untuk mencantumkan identitas unik ini pada buku yang diciptakan. Agar semakin jelas, berikut uraian selengkapnya:
1. Tidak Punya Legalitas
Risiko menerbitkan karya tulis tanpa ISBN yang pertama adalah tidak memiliki legalitas. Dalam dunia literatur, kode unik ini berperan sebagai bukti nyata bahwa buku yang kita susun sudah terdaftar secara resmi dalam sistem perbukuan dan tersimpan di database kearsipan nasional.
Artikel yang sesuai:
Status buku yang tidak memiliki ISBN biasanya dianggap kurang sah atau terkesan abu-abu di mata hukum dan industri. Tentu saja, hal ini akan menjadi masalah, sebab tidak ada lembaga resmi yang dapat menjamin bahwa karya tersebut sudah tepublikasi secara legal. Konsekuensinya, kredibilitas dan profesionalitas penulis akan diragukan oleh pihak luar, termasuk pembaca.
2. Menyulitkan Proses Distribusi
Bagi yang tetap berkeinginan menerbitkan buku tanpa ISBN, maka bersiaplah karya tulismu akan sulit untuk didistribusikan. Ada banyak toko buku besar, baik yang bersifat offline maupun online yang menolak buku yang tidak memiliki nomor identitas resmi.
Penyebab terjadinya hal ini karena pihak toko sangat bergantung pada ISBN untuk pengelolaan data dan sistem kasir. Tanpa adanya kode unik ini, mereka akan kesulitan memasukkan bukumu ke dalam sistem transaksi yang tersedia.
Di samping itu, buku tanpa ISBN juga tidak akan muncul ke dalam katalog pencarian. Dengan kata lain, bukumu tidak akan keluar saat pembaca mencoba mencari berdasarkan kategori, genre, nama penulis, maupun nama penerbit di sistem toko.
Dampak jangka panjangnya, reputasi dan kredibitasmu sebagai penulis di mata pembaca ikut menurun. Walaupun kamu mencoba memasarkannya sendiri melalui platform media sosial atau marketplace, orang akan mempertanyakan buku tersebut karena tidak memiliki identitas yang jelas. Dengan demikian, kamu akan kalah bersaing dengan buku-buku serupa yang memiliki ISBN.
3. Sulit Masuk ke Perpustakaan atau Institusi Pendidikan
ISBN dapat kamu jadikan sebagai bukti nyata yang menyatakan bahwa keaslian dan keabsahan bukumu telah diakui. Selain mempunyai identitas resmi, ISBN juga ada meningkatkan visibilitas bukumu dan membedakannya dari buku-buku yang beredar. Fungsi lainnya yaitu memudahkan institusi untuk memverifikasi buku tersebut merupakan terbitan yang valid dan akurat.
Apabila kamu mengambil keputusan untuk tidak mendaftarkan ISBN, maka bukumu tidak akan masuk ke dalam database resmi Perpustakaan Nasional. Sebab, data bibliografi nasional hanya memasukkan buku-buku yang tercatat secara resmi, sehingga karya yang tidak punya kode ini akan terabaikan oleh sistem.
Kondisi ini menjadi hambatan besar jika kamu ingin buku yang telah disusun susah payah masuk ke dalam rak perpustakaan institusi akademik. Karena ISBN menjadi syarat mutlak untuk referensi akademik dan sumber penelitian. Tanpa nomor ini bukumu tidak akan menjadi bahan rujukan dan tidak bisa digunakan sebagai ajar di kelas.
4. Mengurangi Jaminan Perlindungan Hak Cipta

Risiko menerbitkan buku tanpa ISBN selanjutnya yaitu berkaitan dengan perlindungan hak cipta. Seperti yang kita tahu, ISBN berperan sebagai identitas resmi yang memberikan perlindungan hukum seorang penulis. Apabila terdapat kejadian plagiarisme atau pembajakan, ISBN menjadi alat bukti legal yang kuat untuk memperlihatkan siapa pemilik sah buku tersebut.
Sebaliknya, buku yang dipublikasikan tanpa ISBN akan menyulitkan proses pembuktian kepemilikannya apabila terjadi kasus hukum. Tidak adanya nomor identitas yang terdata secara nasional, penulis tidak akan memiliki kesempatan untuk bertahan dari serangan pihak lain.
Di samping akan mudah disalahgunakan, mengabaikan pendaftaran ISBN juga akan menimbulkan kerugian finansial. Oleh karena itu, membubuhkan ISBN merupakan langkah cermat untuk melindungi hasil pemikiranmu.
5. Tidak Diakui dalam Ranah Akademik
Salah satu syarat wajib agar sebuah karya bisa digunakan sebagai referensi resmi dalam penyusunan skripsi, tesis, disertasi, hingga jurnal ilmiah yaitu memuat ISBN di dalamnya. Apabila identitas ini tidak ada, maka karya kamu tidak ada muncul dalam sistem sitasi akademik. Karena dianggap tidak tercatat dalam database bibliografi yang sah.
Bagi kalangan akademisi sepeti dosen, profesor, peneliti, ilmuan, serta mahasiswa, unsur ini sangat penting untuk memastikan validitas dan kredibilitas sebuah referensi. Buku tanpa ISBN akan mereka golongkan sebagai sumber rujukan yang tidak sah secara akademis. Dengan demikian, isi atau materi di dalamnya tidak bisa kita jadikan sebagai sumber informasi resmi dalam penelitian.
Hal ini juga menyangkut persoalan karier akademik, misalnya penilaian jabatan fungsional dosen. Jika kamu seorang dosen yang menginginkan kenaikan pangkat dan memiliki nilai poin, maka kamu harus menerbitkan buku dengan ISBN. Ketiadaan kode unik ini, tidak akan terhitung sebagai publikasi ilmiah resmi dan jerih payahmu akan berakhir sia-sia.
6. Menjatuhkan Kredibilitas Penulis & Penerbit
Risiko atau kekurangan menerbitkan buku tanpa ISBN yang keenam berkaitan dengan kredibilitas penulis sekaligus penerbit. Buku yang tidak mempunyai ISBN seringkali dianggap kurang profesional.
Tidak adanya nomor identitas resmi ini di dalam sebuah buku, seorang penulis dapat dianggap tidak serius atau kurang memahami standar dalam dunia literasi. Artinya, mendaftarkan ISBN menunjukkan bahwa penulis bersungguh-sungguh dan menghargai karya yang mereka tulis.
Bagi lembaga penerbit, ISBN merupakan simbol kredibilitas yang menandakan profesionalitas. Biasanya, penerbit mayor tidak akan mengambil risiko dengan merilis buku tanpa ISBN karena dapat merusak citra mereka di mata publik. Kesimpulannya, ISBN merupakan komponen penting agar sebuah buku dapat diakui secara hukum dan lebih dipercaya oleh pembaca maupun toko buku.
7. Menghambat Proses Pemasaran dan Promosi
Saat ini, kita hidup di era yang semuanya dapat dilakukan secara digital dengan bantuan perangkat elektronik seperti ponsel atau laptop. Jadi, mempromosikan buku tidak cukup hanya membuat ulasan di surat kabar atau melalui toko fisik saja.
Agar semakin efektif, kamu harus mengiklankan atau memperkenalkan hasil karyamu di berbagai platform digital dan marketplace. Persoalannya, banyak situs dan toko buku online yang mewajibkan ISBN sebagai syarat utama supaya bukumu dapat dipajang di ditemukan oleh calon pembaca.
Tanpa ISBN, karya tulismu tidak akan terlihat di hasil pencarian Google atau sistem distribusi global lainnya. Kode ini dapat kita umpamakan sebagai pintu yang menghubungkan bukumu ke jaringan penjualan skala nasional maupun internasional. Jika kamu tetap ingin menerbitkan buku tanpa ISBN, risiko yang akan kamu hadapi yaitu bukumu hanya akan menjadi koleksi pribadi yang sulit dijangkau oleh banyak orang.
Nah, itulah penjelasan mengenai beberapa risiko atau kerugian menerbitkan buku tanpa ISBN. Semoga setelah membaca informasi ini, teman-teman penulis dapat memahami arti penting dan manfaat jangka panjang ISBN untuk karya yang kalian hasilkan.
Bagi yang ingin menerbitkan buku lengkap dengan ISBN, kami merekomendasikan penerbit Detak Pustaka. Kami akan mendampingi penulis secara penuh, mulai dari proses konsultasi, editing, hingga pengajuan ISBN di Perpusnas. Dengan demikian, penulis tidak perlu bingung memikirkan urusan administrasi dan bisa lebih fokus pada pengembangan ide tulisan.
Untuk informasi lebih lengkap, silahkan hubungi kontak kami di link berikut: KONSULTASI/PEMESANAN. Selamat berkarya!






