
Tidak hanya menentukan ide atau menyusun naskah, tantangan lain yang membayangi para penulis yakni terkait desain cover. Banyak yang berfokus pada kualitas isi buku, tapi lupa bahwa cover merupakan hal pertama yang calon pembaca lihat.
Namun sayang, masih banyak penulis yang melakukan berbagai kesalahan fatal dalam mendesain cover buku. Mulai dari pemilihan warna yang terkesan sembarangan hingga ukuran judul yang susah dibaca. Kelalaian ini bisa berdampak signifikan bagi penjualan buku.
Daftar isi
ToggleKesalahan Fatal dalam Mendesain Cover Buku yang Sering Dijumpai
Melalui artikel ini, kita akan mengupas satu per satu berbagai kesalahan tersebut. Harapannya, setelah membaca informasi ini, teman-teman penulis maupun desainer mampu menciptakan tampilan cover yang memukau dan menarik perhatian pembaca potensial. Agar makin paham, yuk ikuti penjelasannya di bawah ini.
Apa Saja Kesalahan Fatal saat Mendesain Cover Buku?
Berikut adalah beberapa kesalahan fatal yang penulis pemula sering lakukan ketika mendesain cover atau sampul buku.
Artikel yang sesuai:
1. Judul buku yang sulit terbaca
Banyak penulis atau desainer pemula yang secara tidak sadar membuat judul buku menjadi susah terlihat dengan jelas. Padahal, hal pertama yang calon pembaca tengok dari sebuah buku adalah judul. Berbagai faktor penyebab masalah ini muncul antara lain yaitu:
- Ukuran font terlalu kecil
- Jenis font terlalu tipis
- Warna font senada dengan background
- Background atau latar belakang terlalu ramai/penuh
Lalu, bagaimana cara mengatasi masalah ini? Kita bisa membuat warna font judul bertabrakan dengan warna background agar dari jauh dapat langsung menyala. Selain itu, kita bisa menebalkan dan mengatur ukuran font cukup besar (sekitar 30%) dari lebar cover buku.
2. Salah memilih jenis tulisan (font)
Pemilihan jenis font untuk judul buku yang akan diletakkan pada cover merupakan hal yang sangat krusial. Untuk itu, kita wajib memilih font yang sesuai dengan suasana atau genre cerita yang diangkat.
Bagi teman-teman yang menulis cerita misteri atau horor, jenis font Serif yang bersifat tegas dan kaku. Sementara itu, untuk kisah cinta atau romansa, kalian bisa memilih font Script Elegan yang terasa pas karena memberikan kesan hangat.
3. Gambar terlalu biasa dan berkualitas buruk
Memakai gambar yang terlalu biasa akan membuat karya tulis kita mudah dilewatkan atau tidak ditoleh sama sekali. Calon pembaca tidak akan tertarik untuk sekadar membalik buku dan membaca sinopsis bila desain cover depan tampak pasaran.
Agar tampilan buku kita beda dengan yang lain, kita perlu melakukan riset demi menemukan ide gambar yang unik. Misalnya, menggunakan ilustrasi khusus atau mengambil satu benda yang paling penting dalam cerita untuk kita jadikan fokus utama pada cover. Dengan begitu, buku kita akan memiliki ciri khas tersendiri yang membedakannya dari karya-karya lain yang sejenis.
4. Desain cover terlalu penuh dan ramai
Kesalahan lain yang sering dilakukan yaitu memasukkan semua hal ke bagian depan cover. Mulai dari judul, nama penulis, gambar/ilustrasi, kutipan, sampai beragam ornamen tambahan menumpuk jadi satu. Hal ini tidak akan menarik, tapi justru membuat mata calon pembaca menjadi lelah dan tidak ingin memandangnya terlalu lama.
Untuk itu, kita perlu menentukan sejak awal apakah target pembaca langsung melihat judul atau gambar utama. Dengan membatasi elemen yang dirasa tidak perlu, desain cover akan tampak rapi, modern, dan enak dipandang.
5. Melupakan tampilan versi thumbnail
Di era digital saat ini, banyak buku dijual secara daring atau online. Cover yang terlihat elegan, bagus, dan jelas saat dicetak di kertas belum tentu terlihat menarik ketika gambarnya diperkecil di layar ponsel. Sering kali font pada judul menjadi buram dan gambar menjadi blur saat terpajang di etalase marketplace.
Cara mengatasinya yaitu kita bisa melakukan tes sederhana dengan memperkecil ukuran cover sampai 10%. Jika dalam ukuran tersebut judul masih bisa mudah dibaca dan gambar utamanya tetap jelas, artinya desain cover buku sudah siap untuk kita terbitkan baik secara fisik maupun digital.
6. Warna cover tidak cocok dengan suasana cerita

Pemilihan warna yang tidak sesuai dengan genre atau suasana cerita yang penulis bangun termasuk salah satu kesalahan fatal yang sering terjadi. Misalnya, mengaplikasikan warna-warna cerah atau warna pastel yang lembut untuk novel misteri yang menegangkan.
Sebelum menentukan warna, kita bisa melakukan riset dengan melihat buku-buku populer yang genrenya dengan buku yang ditulis. Untuk cerita yang penuh teka-teki, kriminalitas, atau plot twist, gunakan warna gelap yang dipadukan dengan sedikit warna merah untuk memunculkan suasana misterius.
7. Mengabaikan bagian punggung dan belakang cover
Hanya memikirkan bagian depan dan mengabaikan bagian punggung serta belakang cover merupakan kesalahan fatal yang sering penulis atau desainer lakukan. Oleh karena itu, pastikan bagian punggung buku memuat judul, nama penulis, dan logo penerbit. Sementara itu, bagian belakang cover isi dengan sinopsis atau blurb, nomor ISBN, serta review maupun testimoni dari tim editorial agar pembaca semakin yakin untuk segera membacanya.
8. Unsur cover tidak lengkap
Sebuah cover buku setidaknya harus mempunyai lima unsur, seperti judul buku, nama penulis, nama/logo penerbit, sinopsis/blurb di bagian belakang, serta keindahan visual. Setiap unsur tersebut saling melengkapi agar karya tulis kita tampak semakin profesional dan berkualitas.
Bagaimana Perbandingan Cover yang Baik dengan Cover yang Tidak Baik
Di bawah ini adalah tabel yang berisi penjelasan singkat mengenai perbedaan cover buku yang baik dan tidak baik.
Aspek | Cover yang Baik | Cover yang Tidak Baik |
| Judul | Jelas, kontras tinggi, dan mudah terbaca dari jarak yang jauh. | Buram, ukuran font terlalu kecil, atau warna yang menyatu dengan background. |
| Jenis Font | Sesuai dengan kategori, genre dan suasana cerita di dalam buku. | Asal memilih font yang tidak relevan dengan suasana cerita. |
| Gambar | Unik, sesuai dengan tema cerita, dan berkualitas tajam. | Gambar terlalu biasa, sudah sering dipakai, dan berkualitas buruk. |
| Tata Letak (Layout) | Rapi, minimalis, dan fokus pada satu objek utama. | Terlalu ramai dan penuh banyak elemen yang kurang penting. |
| Versi Digital | Tetap jelas walau kita perkecil di layar ponsel (thumbnail). | Menjadi buram dan tulisan tidak terbaca di etalase marketplace. |
| Warna | Mendukung genre dan suasana cerita. | Bersebrangan dengan isi cerita. |
| Bagian Punggung & Belakang Cover | Memuat judul, sinopsis atau blurb, ISBN, nama penulis, dan identitas penerbit. | Polos atau tidak terdapat informasi pendukung. |
| Kelengkapan Unsur | Menampung lima unsur utama cover (judul, penulis, penerbit, sinopsis, estetika). | Ada unsur wajib yang hilang sehingga tidak tampak profesional. |
FAQ Seputar Kesalahan Fatal dalam Mendesain Cover Buku
Berikut adalah beberapa pertanyaan sekaligus jawaban yang berkaitan dengan kesalahan fatal yang sering penulis lakukan saat mendesain cover buku.
Q1: Apa saja kriteria cover buku yang baik?
- Memuat unsur-unsur cover buku secara lengkap.
- Mudah dipahami oleh pembaca.
- Menggambarkan genre atau isi buku.
- Mempunyai daya tarik dan memicu rasa penasaran orang yang melihatnya.
Q2: Berapa kisaran biaya jasa desain cover buku?
Bagi teman-teman yang ragu atau tidak memiliki keahlian untuk mendesain cover, bisa meminta bantuan jasa desain cover dengan harga yang bervariasi, mulai dari Rp100.000 sampai lebih dari Rp1.000.000. Kisaran harga ini ditentukan berdasarkan pengalaman desainer, tingkat kerumitan ilustrasi, lisensi, dan revisi.
Demikianlah, penjelasan mengenai delapan kesalahan fatal dalam mendesain cover buku yang sering penulis lakukan. Semoga setelah membaca artikel ini, wawasan dan pengetahuan teman-teman terkait dunia literasi serta penerbitan buku semakin bertambah, ya!
Selamat berkarya dan tetap semangat!






