
Podcast Kataloka episode 44 telah release dengan topik dan narasumber yang sangat istimewa. Tema kali ini terkait dengan menulis sebagai media untuk membebaskan emosi dalam diri.
Materi kali ini akan dibawakan oleh Kak Gusti Saputra. Yang mana dalam Podcast Kataloka kali ini Kak Gusti akan membahas secara komprehensif kegiatan menulis dan emosi diri.
Daftar isi
TogglePodcast Kataloka Episode 44: Cara Memberi Ruang Bebas untuk Emosi dengan Kegiatan Menulis
Tentang bagaimana menulis bisa menjadi media untuk memupuk kesadaran diri, mengungkapkan apa yang benar-benar dirasakan oleh diri, hati dan emosi kita. Okay, tanpa berlama-lama lagi inilah berbagai hal terkait podcast Kataloka episode empat puluh empat:
Mengenal Lebih Dekat Kak Gusti Saputra
Gusti Saputra adalah seorang penulis muda yang memiliki ketertarikan besar pada dunia kepenulisan. Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa semester akhir di Universitas Terbuka dan bekerja di perusahaan manufaktur, ia tetap meluangkan waktu untuk terus belajar, menulis, dan mengembangkan kemampuannya.
Artikel yang sesuai:
Bagi Kak Gusti, menulis bukan sekadar hobi, tetapi juga menjadi cara untuk menuangkan gagasan, perasaan, dan pengalaman hidup ke dalam sebuah karya. Ketertarikan tersebut mengantarkannya menerbitkan buku berjudul Sastra di Asmaraloka, yang menjadi salah satu wujud kecintaannya terhadap dunia sastra. Oh, iya buku pertama dari Kak Gusti ini terbit di Detak Pustaka
Detail Buku Karya dari Kak Gusti Saputra
Nah, inilah detail karya luar biasa dari Kak Gusti Saputra:
Judul: Buku Sastra di Asmaraloka
Sinopsis: Sastra di Asmaraloka Setiap cinta punya takdirnya sendiri. Namun tidak semua hatidiberi keberanian untuk mengakuinya. Sastra, seorang penulis yang hidup di antara sunyi dan gema masa lalu, kembali menata langkah ketika perjalanan hidup menuntunnya bertemu cinta dalam berbagai wajah cinta yang hadir sebagai cahaya, sebagai luka, juga sebagai pengingat bahwa hati manusia tidak pernah sederhana.Di Asmaraloka, ia belajar bahwa kasih bukan soal siapa yang datang pertama, melainkan siapa yang tetap tinggal ketika dunia runtuh pelan-pelan. Di tengah riak ingatan dan pilihan yang meremukkan hati, Sastra menuliskan puisi yang menjadi saksi bisu perjalanannya:
“Jika cinta adalah jalan, maka aku adalah pejalan yang tersesat di antara tanda arah yang semuanya menjanjikan pulang. Dan aku takut … pada hari ketika semua bayang itu pergi, menyisakanku sebagai satu-satunya yang tidak tahu ke mana hati harus kembali. Jika cinta adalah perjalanan, maka aku adalah pejalan yang tak pernah berhenti belajar pulang.”
Dan ketika lembar hidupnya berputar kembali, Sastra menyadari bahwa dalam Asmaraloka dunia tempat cinta dipertemukan sekaligus dipisahkan ia sedang belajar melepas tanpa kehilangan dirinya sendiri: “Ada hati yang kupaksa mengejar langit, namun ia selalu pulang pada bumi yang tenang. Mungkin cinta bukan tentang ketinggian, melainkan tentang siapa yang bersedia menjadi rumah untuk tempat pulang.”
Novel ini adalah perjalanan seorang lelaki yang jatuh, bangkit, mencinta, kehilangan, dan menemukan kembali cahaya di dalam dirinya. Sastra di Asmaraloka adalah kisah tentang hati yang tak pernah berhenti berpuisi bahkan ketika dunia memintanya diam.
Jumlah halaman: 156
Harga normal: Rp52.000,00
Link pembelian: Beli buku Sastra di Asmaraloka
Menengok Isi Podcast Kataloka Episode 44: Cara Memberi Ruang Bebas untuk Emosi dengan Kegiatan Menulis
Nah, dalam podcast kali ini seperti yang sudah kamu utarakan di awal akan fokus membahas hal-hal terkait bagaimana memberikan ruang bebas terhadap emosi melalui kegiatan menulis, khususnya menulis buku. Dalam kesempatan ini Kak Gusti juga akan memaparkan strategi untuk tetap konsisten menulis walaupun sedang tidak memiliki inspirasi.
Untuk lebih detailnya bisa langsung kamu tonton podcast nya dengan klik link berikut: Podcast Kataloka Episode 44: Cara Memberi Ruang Bebas untuk Emosi dengan Kegiatan Menulis. Selamat menonton dan ambil ilmu sebanyak-banyaknya, ya!






