Fungsi Backstory Tokoh Novel dalam Proses Penulisan Cerita Novel

Fungsi Backstory Tokoh Novel dalam Proses Penulisan Cerita Novel

Fungsi backstory tokoh novel akan menjadi pembahasan kita selanjutnya. Setelah sebelumnya kami telah menguraikan perkenalan awal terkait dengan backstory.

Singkatnya, backstory adalah peristiwa atau kejadian atau apapun itu yang terjadi sebelum suatu cerita yang tersaji mulai di halaman pertama novel dimulai. Tentu saja ini akan mempengaruhi plot cerita.

Fungsi Backstory Tokoh Novel dalam Proses Penulisan Cerita Novel

Kita telah tahu bukan, bahwa plot itu juga terkait dengan sebab-akibat? Begitupun dengan backstory dari tokoh novel, akan mempengaruhi segala tindakannya di masa kini (di masa cerita ditulis atau diceritakan).

Tentu saja ini akan berpengaruh terhadap cerita yang akan tersaji. Untuk lebih detailnya (pengaruh backstory terhadap cerita), kami akan merangkumnya dalam bentuk fungsi backstory tokoh novel terhadap penulisan novel.

1. Memberikan Pemahaman Perkembangan Karakter pada Pembaca

Fungsi backstory tokoh novel yang pertama adalah terkait dengan pemahaman pembaca. Apabila pembaca mengetahui backstory tokoh (baik protagonis, antagonis, maupun tritagonis) mereka akan memahami tindakan yang diambil tokoh. Lebih jauh lagi mereka akan memahami jalan cerita yang sedang berjalan.

2. Meningkatkan Ketegangan atau Keseruan

Misalnya sebagai contoh di novel Tuhan untuk Jemima, ada tokoh antagonis yang hendak balas dendam kepada keluarga Jemima. Pembaca tahu penyebab balas dendam tersebut, tapi si tokoh utama (Jemima) tidak mengetahuinya. Seiring plot cerita berjalan dan backstory dari si antogonis diceritakan, pembaca akan merasakan ketegangan akibat teror yang menghampiri keluarga Jemima.

3. Berfungsi untuk Mengungkapkan Motivasi

Melalui motivasi tokoh (terutama protagonis) kita menjadi tahu mengapa dia melakukan suatu pilihan atau tindakan. Motivasi sendiri biasanya datang akibat suatu hal di masa lalu atau backstory itu sendiri. Backstory memberikan gambaran bagaimana seorang karakter menjadi dirinya yang sebenarnya.

Contohnya dalam novel Ranah Tiga Warna, Alif sangat termotivasi untuk bisa kuliah di ITB. Hal tersebut dipicu karena sedari lulus SMP dia telah berkeinginan untuk sekolah di SMA biasa bukan pesantren dan ingin menjadi seperti BJ. Habibie.

Namun, keinginan orang tuanya berbeda dengan harapannya. Walaupun nilainya terbilang bagus ketika lulus SMP, dan dipastikan bisa sekolah di SMA tapi Alif harus bersekolah di pesantren.

Ketika telah menyelesaikan pendidikannya di pesantren Madani, Alif pulang ke kampung halamannya. Mulai dari sinilah keinginannya untuk menjadi ilmuwan layaknya BJ. Habibie kembali tumbuh. Yaitu dengan narasi yang menunjukkan  bahwa Alif ingin kuliah di ITB.

Jadi keinginan atau motivasi Alif untuk bisa kuliah di ITB telah ada jauh sebelum novel Ranah Tiga Warna diceritakan. Bahkan pada novel pendahulunya yaitu Negeri Lima Menara, telah diketahui bahwa Alif ingin menjadi ilmuwan yaitu dengan sekolah di SMA bukan di pondok pesantren.

4. Berfungsi untuk Mengeksplorasi Ketakutan Terdalam

Backstory juga membantu mendefinisikan ketakutan terbesar tokoh protagonis. Ketakutan ini bisa terkait dengan trauma, kecemasan terhadap suatu hal, atau ketakutan akan kehilangan suatu hal.

Pada tokoh protagonismu berikanlah ketakutan tertentu yang bisa memainkan peran kunci dalam keseluruhan cerita. Kamu bisa memanfaatkan ketakutan protagonismu sebagai metode singkat untuk membentuk alur cerita, dan kemudian ubah ketakutannya menjadi kenyataan.

Fungsi backstory di atas akan bisa termanfaatkan dengan baik jika kamu bisa mengolah narasi sebaik mungkin. Maksudnya begini, kamu bisa tahu kapan harus memunculkan backstory dalam cerita utama. Sebab bila kamu salah menempatkan backstory justru akan merusak keindahan cerita yang telah kamu rencanakan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *