Cerpen – Tentang Sontekan dan Karla by Tiana Rayunda

Tentang Kertas Sontekan dan Karla

Walaupun guru matematika di kelas kami mengatakan metematika peminatanku di kelas sebelas ini lemah, bukan berarti aku adalah seseorang yang akan menyontek. Kurasa, Karla perlu melihatku saat Ulangan Akhir Semester agar ia tahu, aku akan memilih tidur dan mengerjakannya dengan asal ketimbang menyontek.

“Terus siapa lagi kalau bukan lo? Di samping lo kan cuma ada gue, dan itu bukan kertas sontekan gue.” Dia menatapku sekilas, tatapan orang yang tidak ingin kalah.

“Hah, cuma gara-gara itu? Kenapa cuma gue yang lo curigai? Kenapa nggak Dahlia sama Gita di belakang kita? Atau nggak Dio sama Teri di depan kita? Kenapa gue? Karena gue paling nggak bisa MTK di kelas?” cercaku.

Cerpen – Tentang Kertas Sontekan dan Karla by Tiana Rayunda

Sumpah, demi apapun, alasan Karla lebih tidak logis daripada alasan Kevi saat merusak bukuku dan mengembalikannya dengan alasan kucingnya yang merusak buku itu. Padahal kucingnya telah hilang seminggu yang lalu.

“Kalau gitu, lo punya bukti kalau mereka yang punya sontekan itu?” Dia menatapku balik, lebih berani dari sebelumnya.

Hah? yang benar saja. Dia yang menuduh kertas sontekan itu milikku tanpa bukti dan kini terang-terangan mengataiku. Aku tidak menyangka satu bangku saat ulangan harian matematika dengan Karla akan berujung serumit ini.

“Sudah cukup.” Bu Dian memukul meja dua kali, menghentikan adu mulut kami.

Aku menatapnya sengit, sebelum melengos mengalihkan pandanganku pada bu Dian yang terlihat biasa saja. Tidak ada gurat frustasi atau emosi di wajahnya. Bu Dian hanya menatap kami bergantian dengan tenang.

Mengingat sekolah kami mempunyai peraturan ketat soal sontek-menyontek, kurasa bu Dian telah menghadapi ratusan murid dengan masalah persontekan sejak awal masa kerjanya di sekolah ini. Masalah seontek-menyontek sepertinya telah menjadi makanan sehari-hari beliau.

Tinggalkan Komentar