Cerpen – Tahun Kekecewaan by Rachel Grifith Charisa Wijaya

Cerpen - Tahun Kekecewaan by Rachel Grifith Charisa Wijaya

Bulan Juni tahun 2009

Sebulan setelah perayaan ulang tahun ke 17, gadis bernama Keiko menetapkan Teknik Kimia sebagai jurusan kuliah yang dia inginkan. Sebelumnya pada tiga bulan lalu, ketika melakukan kunjungan ke salah satu perusahaan makanan terbesar di Indonesia, Keiko melihat para ilmuwan yang bekerja di sana. Bola mata Keiko berbinar diikuti dengan jantung yang berdegup kencang ketika melihat para ilmuwan melakukan penelitian.

“Mereka hebat.” Keiko tersenyum lebar “Aku ingin menjadi seperti mereka.”

“Teknik Kimia?” mama mengulangi ucapan Keiko ketika acara makan malam di salah satu restoran yang ada di pusat kota Jakarta.

Keiko mengangguk sambil mengunyah makanan. Setelah dia menelan dengan sempurna langsung menjawab “Iya. Aku mau jadi llmuwan di perusahaan makanan.”

“Kenapa enggak pilih jurusan yang lebih mudah?” tanya papa.

“Mudah atau enggaknya baru ketahuan kalau udah dijalanin, yang jelas aku mau kuliah dan di jurusan Teknik Kimia.” Keiko menegak habis air mineralnya.

Keiko menunjukkan tekad yang dia miliki dengan memulai belajar kelompok di sekolah bersama dengan teman – teman yang juga akan masuk ke jurusan Teknik. Salah satu yang ikut belajar kelompok adalah Kenta, sahabat Keiko.

“Kei, ada beasiswanya.” Kenta menunjukkan brosur pada Keiko di siang hari ketika mereka sedang belajar bersama.

“Maksudnya?” jawab Keiko

“Universitas yang kita mau buka jalur beasiswa. Kita harus daftar juga.” Lanjut Kenta.

Keiko melihat brosur itu “Kita harus coba jalur beasiswa juga karena potongannya lima puluh persen. Lumayan banget karena biaya kuliah jurusan Teknik kan mahal.”

“Iya. Bisa mengurangi beban orangtua kita, Kei. Kita coba ya?” Kenta tersenyum untuk memberikan semangat. Bagi Keiko, Kenta tidak hanya seorang teman tapi support system yang selalu ada untuk dirinya yang mudah rapuh.

Cerpen – Tahun Kekecewaan by Rachel Grifith Charisa Wijaya

Memasuki semester baru di tingkat akhir SMA, kesibukan Keiko ditambah dengan persiapan ujian nasional serta ujian sekolah. Setelah mengikuti pelajaran tambahan di sekolah, Keiko tetap lanjut belajar di rumah bahkan di akhir pekan. Jam belajar Keiko bertambah sampai lewat tengah malam. Walaupun lelah tapi Keiko harus tetap bersemangat agar kuliah di jurusan Teknik Kimia bisa berada dalam genggaman tangannya.

“Kei, enggak makan?” mama masuk ke kamar Keiko karena belum makan seharian di akhir pekan ini.

“Nanti aja Ma.” Keiko masih mengarahkan mata ke komputer.

“Tapi kamu sudah seharian belum makan. Kamu juga enggak ikut kita ke mall.” keluh mama yang langsung dibalas Keiko “Ada harga yang harus dibayar buat impianku, Ma.”

Keiko ingin berhasil mewujudkan impiannya. Dia sadar bukan murid yang pintar di sekolah karena yang dia miliki hanya sifat rajin dan tekun. Modal yang Keiko miliki dia yakini akan bisa membawanya pada keberhasilan. Karena tidak ada hasil yang mengkhianati usaha.

Bulan Maret tahun 2010, Keiko melangkahkan kaki dengan riang ketika menuju rumah. Perasaan bahagia membuncah dalam hatinya ditandakan dengan senyuman merekah di wajah cerah Keiko. Dia membuka pintu rumah sambil berseru “Ma!” kertas di tangannya ingin segera ditunjukkan pada keluarganya.

Namun ketika sampai di ruang tamu, Keiko mendengar orangtuanya bertengkar di dapur. Dia menghampiri mereka namun langkahnya terhenti.

“Jadi maksud papa, biaya kuliah buat Keiko pun enggak ada?” seru mama.

Papa menggelengkan kepala lemah “Kita harus punya cadangan uang, Ma.”

“Tapi aku dapat beasiswa kok.” Keiko langsung masuk dalam pembicaraan mereka.

Orangtuanya terkejut dengan kehadiran Keiko sehingga mama langsung memegang tangannya “Nak, kita bicara di kamarmu yuk.”
Keiko melepaskan tangan mamanya “Aku dapat beasiswa jadi cuma bayar sepuluh juta dari total dua puluh juta. Bisa kan Pa?” tatapan Keiko mengarah pada papa.

Papa tertunduk lesu sambil memikirkan kembali apa yang sudah dia perhitungkan. Airmata perlahan mulai membasahi wajah Keiko bersamaan dengan satu perasaan bernama kecewa yang seketika menghancurkan kebahagiaan yang baru beberapa menit bersamanya.

Bulan Juni tahun 2010, Keiko lulus SMA dengan nilai ujian nasional peringkat tiga tertinggi di sekolah sedangkan Kenta berada tepat dibawahnya. Namun Keiko tidak bahagia dengan prestasi yang dia dapatkan karena ada hal lebih menyakitkan yang terjadi.
Siang ini setelah pengumuman kelulusan, Keiko tidak ingin pulang ke rumah sehingga dia memilih untuk duduk di perpustakaan sekolah.

Setelah membaca sepuluh komik, dia masih belum merasa senang walaupun hanya sedikit. Dia tetap merasa sedih. Suara langkah kaki terdengar di telinga Keiko ketika dia melihat sosok Kenta datang dengan wajah khawatir “Astaga Keiko, aku mencari kamu daritadi lho. Kamu enggak bawa handphone?”

“Aku matikan.” jawaban Keiko membuat Kenta menggelengkan kepala heran.

Remaja bertubuh tinggi itu duduk di hadapan Keiko “Pulang yuk. Mama kamu khawatir.” Keiko langsung menggelengkan kepala untuk ajakan Kenta.

Kenta mendecak kesal “Kei, aku tahu ini sangat berat karena di luar dari bayangan kamu. Tapi keluarga kamu pun bingung, mereka pasti juga sedih dengan semua yang terjadi.” tangan Keiko langsung menggengam erat komik di meja.

Perlahan tangan Kenta memegang tangan Keiko yang sedang menunjukkan amarah “Kei, makan es krim yuk. Kita udah lama enggak makan es krim yang ada di depan sekolah.”

Entah kenapa sentuhan tangan Kenta meredakan amarah Keiko, gadis itu mengangguk perlahan. Kenta tersenyum lalu menggandeng tangan Keiko untuk beranjak dari perpustakaan.

Beberapa bulan ini, menangis adalah kebiasaan baru Keiko ketika mengingat kenyataan pahit kalau dia tidak bisa kuliah. Bahkan dengan beasiswa 50%, orangtuanya tidak sanggup untuk membiayai. Dua bulan lalu tepatnya April 2010 adalah kenangan yang tidak akan bisa dilupakan oleh Keiko ketika keputusan itu sudah diambil oleh keluarganya.

“Kita akan pindah ke rumah kontrakan karena rumah akan dijual.” ucap papa di bulan April 2010.

“Uang dari hasil jual rumah enggak bisa disisain buat kuliahku?” ada nada memohon dari ucapan Keiko yang disambut raut wajah sedih dari orangtuanya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *