Cerpen – Nulisphobia by Prayuddhata

Cerpen - Nulisphobia by Prayuddhata

Universe dalam diriku seolah berkecamuk. Sudah lebih dari sebulan mendekam diri di apartemen. Aku nggak tahu, aku kenapa. Mati enggan, hidup susah. Dunia kelabu, aku semu. Katanya referensi yang sempat kucari di pencarian gugel, ciri-ciri yang sedang kurasakan ini seperti gangguan kecemasan, kondisi yang mempengaruhi suasana hati, berpikir, dan perilaku. Iya, aku tahu, nggak seharusnya aku mendiagnosis penyakit sendiri. Tapi, hei, aku harus bagaimana? Ayolah, apa semua yang beranjak 20 tahun merasakan sepertiku juga?

Ini berat. Berat banget. Bawaannya sedih terus. Padahal nggak terjadi apa-apa tapi semua jadi lebih menyeramkan buat dijalani. Lebih lagi, kalau sudah berhadapan dengan layar laptop dan beberapa peralatan menulisku. Rasanya seperti ada nyeri, mual, dan ingin lari. Aku nggak pernah bisa lagi mulai merangkai kata. Aku kenapa?

Cerpen – Nulisphobia by Prayuddhata

Tepat saat itu, bel apartemenku berbunyi. Penuh rasa malas diriku beranjak dari atas sofa menuju layar interkom. Siapa yang bertamu malam-malam? Kalau nggak penting, aku tolak.

“Hai, Rubi!” panggil seorang laki-laki yang tertangkap pada layar. “Aku bawakan lasagna kesukaanmu. Tolong kasih pintu.”

Wuh, aku lagi malas ketemu sama orang. Bahkan, makanan favorit saja nggak bisa buat aku lebih membaik. Tapi di lain sisi, aku nggak bisa bohong kalau aku rindu kehadiran cowok ini.

“Apa kabar, Bi?” sapanya ramah. Pada akhirnya, aku membiarkan ia masuk.

“Baik,” jawabku singkat sambil melangkah menuju sofa ruang tamu. Kok canggung, ya?

“Kamu nggak suka aku datang? Udah berapa bulan kira-kira dari terakhir kita bertemu?”

Aku menggeleng pelan. “Suka. Delapan bulan, mungkin. Duduk, Franks. Oh, iya, makasih.” Aku mengeluarkan sekotak lasagna dari dalam bungkusan paper bag yang ia berikan tadi. Kami sudah saling berhadapan sekarang.

“Sama-sama.” Franks berdehem pelan, “Aku sedikit khawatir.”

Aku menatap kotak makan itu dengan pikiran menerawang jauh. Tumben sekali Franks datang di tengah kesibukannya di Akademi Polisi. Oh, mungkin dia sedang ada libur.

“Kamu sibuk apa? Dari kemarin susah sekali dihubungi. Aku lihat kamu jarang update cerita sekarang, banyak pembaca yang nyariin kamu loh,” ujar Franks berusaha memecah keheningan sesaat.

“Memang kamu baca?”

Franks terkekeh kecil, “Kalau itu ceritamu, aku bakal baca. Di asrama, kan, bisa akses pakai laptop.”

Aku mengiyakan saja. Franks itu paling anti sama baca-baca club. Nggak yakin aja dia mau baca semua ceritaku. “Berapa hari kamu libur?”

“Aku nggak libur. Tadi pagi aku juga baru sampai sini. Ada urusan yang harus kuselesaikan, jadi izin sebentar dari asrama.”

“Oh,” balasku sambil menyuap satu sendok ke mulut. Lidahku tidak bisa berkompromi. Sebenarnya enak, tapi terasa hambar.

“Kuliahmu gimana, Bi?”

“Seperti biasa, membosankan,” jawabku sekenanya.

“Haha, nggak biasanya kamu gini. Butuh liburan itu. Kalau urusanku sudah selesai kita liburan, ya. Papi-Mami masih di luar negeri?”

Aku menggangguk.

“Oke. Rubi, kalau ada masalah cerita aja,” ucap Franks menatapku lamat-lamat. “Kita sahabatan udah lama, aku tahu kamu lebih dari siapa pun. Kamu tahu aku juga.”

Entah angin apa yang lewat depan mataku. Tiba-tiba saja terasa perih dan aku menangis. Franks langsung mengambil alih diriku. Dipeluknya tubuh ini lalu ia tenangkan. Aku nggak tahu harus berbuat apa. Yang bisa kulakukan hanyalah menangis, menangis, dan menangis. Dan, Franks juga nggak berhenti sampai di situ. Setiap kata yang kudengar perlahan mulai memberi kehangatan.

Aku kembali mendapati diriku. Tangan mulai kebas karena menggengam terlalu erat punggung Franks. Sekilas aku merasa aneh, bagian depan jaket Franks terasa keras. Maksudku, seperti ada yang mengganjal. Seperti besi atau semacamnya. Entahlah, aku terlalu lelah untuk bertanya.

“Sudah tenang sekarang? Jangan sedih lagi, ya.” Franks mengamatiku sekilas kemudian berdiri. Ia sadar kalau aku mengamati bagian depan jaket hitamnya.

“Aku cuma mau mastiin kamu baik-baik aja, Bi. Ini hari terakhir aku dateng ke sini, soalnya besok harus udah kembali ke asrama,” ucapnya mendadak.

“Sering-sering keluar apartemen, biar nggak stres. Nanti kalau urusanku udah selesai kita liburan. Janji.”

Serius. Franks tampak berbeda hari ini.

***

Masih di hari yang sama. Malam beranjak larut, sepuluh menit lalu sudah lewat tengah malam. Aku memutuskan keluar dari bangunan apartemen untuk mencari camilan. Kudapan malam dengan es kopi atau soda? Hm, lihat saja nanti ada apa di minimarket. Franks benar. Kepalaku agak ringan sekarang. Berjalan di malam hari ternyata nggak buruk juga. Letak minimarket juga nggak terlalu jauh. Aku bisa menikmati kesendirian ini dengan cara yang berbeda tentunya.

Selama perjalanan, aku terkejut saat melewati gang dan satu di anatara rumah yang kulewati tiba-tiba saja padam. Lampu jalan di sekitar situ juga pecah. Kuperhatikan sekeliling. Sepi. Ini gang yang sering aku lewati untuk mengambil jalan pintas.

Belum habis pikiranku menerka-nerka. Dari arah jendela atas rumah yang padam itu, jatuh banyak sekali kertas-kertas. Suara gemeresek yang saling bersinggungan itu disertai bunyi gedebuk keras sekali. Andai saja penerangannya lebih jelas, mungkin aku nggak akan semerinding ini. Kalau hanya kertas yang jatuh nggak mungkin sampai sekeras itu jatuhnya. Kemudian, yang lebih mengejutkan lagi adalah bunyi seperti tembakan. Nggak. Iya, itu tembakan.

Badanku mulai lemas. Ini pasti mimpi. Ya, aku hanya perlu bangun. Ayolah, ini sungguhan? Nggak lucu. Suasana kembali senyap sekarang. Sedetik kemudian tubuhku seperti tertarik.

“Hei—“

“Ssttt!” Seorang yang tidak kukenal menutup mulutku. Sontak saja aku langsung memberontak. Hei, siapa sih ini?!

“Diam!” perintahnya. Bodohnya aku hanya bisa menurut. Karena di sekitar rumah suasananya sedang pemadaman, wajahnya nggak kelihatan begitu jelas.

Kami berdua akhirnya diam di balik pot bunga besar samping rumah. Posisi kami tersudut dekat tiang listrik. Sesekali aku coba berontak tapi tautannya begitu erat. Ya, dia masih mencengkramku. Mau memberontak juga takut. Bingung.

“Diam di sini!” perintahnya lagi dengan tegas dan serak.

Aku melongok penasaran. Ikut mengintip di balik dedaunan yang rimbun. Seseorang keluar. Berhenti sejenak di depan pintu rumah. Kemudian dalam remang-remang, retinaku melihat dia memasukkan segenggam besi ke dalam saku di balik jaket. Pistol. Cowok itu mengenakan topi hitam dan jaket … jaket hitam. Dengan gerakan gesit ia segera mengambil langkah kabur lewat samping. Tunggu, aku ingat sesuatu. Meski gelap, aku masih bisa mengenali model jaketnya.

“Franks?!” pekikku tertahan. Mulutku langsung dibekap. Hei, bahkan dia nggak mengizinkanku bernapas.

Selang beberapa detik, cowok asing tadi langsung melepaskan tautannya dariku. Tanpa banyak bicara dia langsung mengejar dan menyergap tubuh Franks.

Selanjutnya terdengar bunyi gedebukan. Dua manusia itu bergelut hebat. Aku shock. Selama ini yang aku tahu Franks adalah cowok tegas yang lembut. Tapi ternyata malam ini, semua enyah. Franks beringas.

“BERHENTI!” leraiku.

Tatapan kami bertemu. Mendapati Franks lengah, cowok asing itu langsung memutar lengan Franks ke belakang. “Bagus, kalau kamu sudah kenal dia.”

“Ngapain kamu di sini?” tanya Franks dingin dengan napas terengah-engah.

“Lah, harusnya aku yang tanya kamu.” Rasanya campur aduk. Mau marah tapi nggak bisa marah.

Franks tertawa kecil. “Aku habis matiin orang. Orang yang harusnya mati sepuluh tahun yang lalu.”

“Maksudnya?”

“Bi, kamu pikir kecelakaan orang tuaku dulu nggak menyisakan luka apa-apa? Oke, aku tahu kita masih sama-sama kecil. Tapi mulai saat itu, aku bertekad bakal cari siapa dalang yang udah bikin mereka mati! Aku nggak pernah diam, Bi. Sepuluh tahunku nggak pernah sia-sia. Bedebah itu sekarang mati! Haha!”

Aku bergidik ngeri. “Bukannya Tante Ira sama Om Ardi meninggal saat kecelakaan pesawat?”

“Persetan, Bi! Mama sama Papa nggak pernah kecelakaan. Mereka sudah ditembak mati waktu masih di Hongkong dan si jurnalis keji itu yang mengarang semua seolah kecelakaan. Dia nggak lebih dari pesuruh kolega Papa yang sama bedebahnya itu!”

“Nggak … nggak mungkin.” Aku berusaha mencerna kejadian barusan. Enggak. Franks nggak mungkin sebrutal ini. “Terus kalau kamu bunuh mereka, orang tuamu bakal kembali gitu? Ha? Apa yang kamu dapetkan sekarang? Nggak ada, ‘kan?”

“Seenggaknya aku tenang mereka udah nggak berkeliaran di dunia ini,” jawab Franks tak terduga. Senyum smirk-nya semakin membuatku ngeri.

“Kamu gila!” teriakku sembari memukulnya sekena mungkin. “Psikopat!”

Dan semakin keras aku meraihnya, semakin hebat juga dia meronta. Pertahanan cowok asing itu pun terlepas sangking brutalnya Franks. Entah dapat celah dari mana, Franks sudah menggengam kembali pistolnya. Kini ia terlepas dari cengkraman cowok asing itu. Ya, Franks yang hilang akal sehatnya menodongkan pistol ke arah kami.

Dalam satu gerakan, cowok itu dengan gesit menjadi tameng di depanku. “Kamu yakin?” ucapnya tenang meski terdengar memburu. Kami baru sadar bahwa lingkungan sekitar mulai didatangi banyak orang. Raut wajah mereka terkantuk-kantuk tapi menyuratkan penasaran.

Franks bergetar. Ia menatap lamat-lamat padaku. “Oke … Bi … Maaf….” Franks mengarahkan mulut pistol ke samping pelipisnya. Gila, gila, gila.

“Franks?!” teriakku sekencang mungkin.

Ledakan kedua terdengar begitu keras. Aku jatuh terduduk. Ada yang berjatuhan dari atas. Pistol tadi sudah teracung ke atas. Ternyata cowok asing itu yang mengarahkan pistol ke atas sebelum peluru benar-benar menembus kepala Franks. Syukurlah. Tapi kepalaku berat. Dan, dalam sekejap semua mulai gelap.

***

Aku terbangun dengan rasa sakit yang luar biasa di kepala. Kenapa Tuhan tidak membiarkanku tertidur selamanya. Kenapa aku harus bangun dengan rasa nyeri tak berkesudahan. Bahkan, saat mataku setengah terbuka pun kilasan ingatan itu menerjang dengan bertubi-tubi.

“Kamu tidak mati,” kata sebuah suara. Oh iya, aku baru sadar sudah ada di ruang bercat putih. Pasti rumah sakit. “Kamu baik-baik saja.”

Haha, sok tahu sekali dia. “Kamu siapa?” tanyaku akhirnya.

“Aku tidak penting.”

“Bagaimana kamu bisa muncul malam itu?”

“Karena Tuanku mati.”

Aku cengo seketika. Ini manusia dari planet mana? Kaku sekali.

“Tolong jelasin yang gampang, kepalaku pusing,” ujarku malas berdebat.

“Tidak sekarang, kamu harus pulih dulu,” timpalnya lalu meninggalkan ruangan.

***

Sudah lebih dari seminggu aku nggak pulang ke apartemen. Kamar bercat putih ini lambat laun terasa seperti rumah. Tapi aku nggak suka. Tentang cowok asing yang kutemui itu, percaya nggak percaya. Dia bukan manusia. Bukan, bukan. Maksudku dia hidup secara tidak sengaja. Secara rasional memang tidak masuk akal. Tapi siapa sih yang mau percaya kalau tokoh fiksi bisa jadi nyata? Nggak, ‘kan? Sama!

“Kadang ada beberapa hal yang tidak perlu dijelaskan dengan logika. Tembakan itu memang membunuh penulisku, tapi membangkitkanku. Aku hanya bisa kembali jika ada penulis yang bersedia melanjutkan ceritanya. Kamu tahu kertas-kertas yang berhamburan tepat saat bunyi ledakan? Ya, aku ditulis di sana. Aku mohon kamu bisa bantu dengan melanjutkan ceritanya.”

“Apa? Aku?”

“Ya.”

“Aku nggak bisa,” sahutku cepat.

“Aku sudah memeriksa profilmu. Kamu adalah seorang penulis.”

Hah? Wow, cowok ini punya banyak kejutan. Aku kehabisan kata-kata. Dari mana ia tahu identitasku?

“Seseorang bernama Franks yang memberitahuku. Kemarin aku menjenguknya di lapas.”

Franks masih hidup? Huh, siapa peduli. Mendengar namanya saja sudah buatku kesal.

“Jadi, bagaimana?”

“Jujur, aku masih nggak ngerti sama kondisi ini. Kamu bilang datang dari dunia fiksi, kamu hidup gara-gara penulismu mati, temanku pembunuh dan mau bunuh diri. Malah sekarang aku terdampar di tempat ini dan kamu minta aku menulis agar kamu bisa kembali? Gila!”

“Intinya adalah aku memberimu kesempatan untuk menulis. Bebas. Kamu hanya tinggal mengikuti alurnya lalu ekspreksikan sesuai imajinasimu. Setidaknya, aku punya harapan. Dan, kamu bisa menulis cerita baru dan menemukan … kebahagiaan.”

Bahagia? Entah kenapa terdengar magis. Perasaanku bergetar. Apa mungkin selama ini aku hanya sekadar menulis. Menulis untuk menulis. Bukan menulis untuk bahagia. Makanya selama ini, aku terjebak dalam kekosongan.

Aku enggan mengiyakan, tapi di lain sisi juga penasaran.

“Aku harap naskah lamanya masih ada.”

“Bagus!” ujarnya senang.

SELESAI

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *