Cerpen – Dua Insan Bibliophile by Karina Hayya

Cerpen - Dua Insan Bibliophile by Karina Hayya

Hening selama beberapa saat, sampai akhirnya Nadira memberanikan diri untuk berbicara lagi. “Kenapa? Ada yang salah, ya, dari ucapan gue tadi?”

Zoey tertawa hambar. “Gue tertampar sama ucapan lo.”

Cerpen – Dua Insan Bibliophile by Karina Hayya

“Oh, sori, yang mana? Soal buku bajakan??” tanyanya hati-hati.

Zoey mengangguk. “Iya. Gue sering beli buku bajakan.”

Gadis di sebelah Zoey itu terkekeh kecil. “Kalau itu gue juga pernah beli buku bajakan, sebelum ngerti kalau buku bajakan itu merugikan banget.”

“Merugikan gimana?” tanya Zoey tak mengerti.

“Iya, gimana nggak merugikan coba, membajak buku itu sama aja dengan mencuri. Juga merugikan banyak pihak, termasuk pembeli. Kualitas bukunya jelek banget, cetakannya nggak rapi dan buram. Intinya, nggak semulus original-lah, beda jauh,” papar Nadira membuat Zoey kembali terdiam. “Itu baru dilihat dari segi kerugian pembeli. Belum dari penerbit, apalagi penulisnya.”

Zoey mengangguk-angguk mengerti.

“Gue salut banget sama toko buku bekas ini. Toko ini berdiri di antara toko-toko buku bajakan,” lanjut Nadira. “Mereka masih bertahan menjual buku-buku original meskipun bekas, daripada ngikut jualan buku bajakan.” Ia tersenyum, pandangannya memutar melihat deretan buku-buku bekas di toko ini.

By the way, kenapa suka beli buku bajakan?” tanyanya pada Zoey yang sepertinya setengah melamun.

“Ehm, ya … gue pikir karena lebih murah aja. Gue suka jajan, juga suka baca dan ngoleksi buku. Daripada duit jajan gue beliin yang original dengan harga yang lumayan mahal, mending gue beliin yang non-original. Sisanya buat jajan.”

Jawaban itu membuat Nadira mengangguk paham. Ia pun pernah ada di posisi itu. Namun sekarang, ia anti dengan yang namanya buku bajakan.

“Nabung dulu aja kalau belum bisa beli yang baru. Atau kalau enggak beli buku bekas original, daripada beli buku baru tapi bajakan.”

“Iya. Gue baru tau buku bajakan se-merugikan itu.” Zoey tersenyum. “Thanks …”

Nadira hanya tertawa kecil.

“Oh ya, nama lo siapa? Dari tadi ngobrol tapi nggak tau nama.”

“Nadira. Kalau lo?”

“Gue Zoey.” Pemilik nama itu tersenyum. “Kayaknya gue harus lebih sering ke sini, deh, dan nggak ke toko sebelah lagi.”

“Kenapa?” tanya Nadira, memasang wajah bingung.

“Biar gue dapet rekomendasi buku atau novel yang sampulnya sederhana tapi menarik, sekaligus biar bisa ketemu terus sama si sederhana yang menarik itu,” ujarnya diakhiri senyuman menggoda.

Nadira hanya tersenyum geli.

“Lo bibliophile, kan?” tanya Zoey. Nadira hanya mengangguk sebagai jawaban. “Sama, gue juga seorang bibliophile. Bukannya bibliophile butuh asupan buku baru setiap bulan bahkan minggunya?”

Kali ini tawa Nadira pecah, mengiyakan ucapan itu. Pemuda di sebelah Nadira itu ikut terkekeh.

Semenjak hari itu, mereka selalu bertemu di toko buku ini—walaupun tidak setiap hari. Saling berbagi apa yang mereka baca, saling memberi rekomendasi juga berbagi pengalaman selama menjadi seorang bibliophile.

Ssstt … Diam-diam sepertinya dua insan bibliophile itu juga saling menaruh rasa!

Penulis: Karina Hayya

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn