Cerpen – Berlayar Membawa Harapan By Karina Hayya

Cerpen - Berlayar Membawa Harapan By Karina Hayya

“Kamu nggak ada bosan-bosannya, ya, bikin perahu dari origami.”

Cerpen – Berlayar Membawa Harapan By Karina Hayya

Sindiran itu membuat Claretta terkesiap. Sontak pandangannya memutar ke arah kanan, tepat pada pintu kamarnya. Ia mendapati ada Sacha, sahabatnya, yang entah sudah berapa lama di situ dan Claretta tak menyadarinya akibat terlalu asyik dengan origami.

Gadis pemilik mata cokelat itu hanya menanggapi ucapan Sacha dengan meringis seraya mengacungkan dua jarinya membentuk V.

Sacha duduk di karpet bulu sebelah Claretta yang dipenuhi oleh perahu-perahu origami setelah menutup kembali pintu kamar sahabatnya.

Tangannya terulur mengambil satu perahu origami buatan Claretta, mengamatinya dengan cermat juga coba mencari arti kenapa sahabatnya ini tak pernah bosan membuat perahu-perahuan itu sejak lama.

“Cla, kamu kenapa sih suka banget buat ginian? Nggak bosen apa?” tanya Sacha sambil membolak-balik perahu di tangannya. “Kamu pun kalau ditanyain soal ini nggak pernah mau kasih tahu apa alasanmu. Padahal aku ini, kan, sahabatmu.”

Gerakan tangan Claretta terhenti saat melipat origami. Ia menunduk sambil menggigit bibirnya, matanya mulai berkaca-kaca. Beberapa detik kemudian gadis itu tertawa hambar. “Nggak apa-apa, Cha. Aku suka aja gitu buat perahu ginian. Nggak ada alasan tersendiri.”

“Bohong!” sahutnya langsung. Sacha mengerutkan keningnya tak suka. Ia mengenali dengan baik jika Claretta sedang menyembunyikan sesuatu. “Setiap orang kalau melakukan sesuatu pasti ada alasannya. Nggak mungkin nggak, Cla.”

Claretta terdiam, mengalihkan pandangannya. Tiba-tiba ia berdiri, membuka jendela kamarnya. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan.

Tatapannya kini tertuju pada langit siang yang cerah. “Mungkin benar apa katamu. Aku hanya ingin mengobati rasa rindu ini yang nggak bisa berkurang, kecuali dengan membuat perahu-perahu itu.”

“Rindu?” Kerutan di kening Sacha semakin bertambah dengan mimik wajah bertanya-tanya. “Rindu siapa? Perasaan yang aku tahu selama ini kamu nggak ada orang terspesial, Cla.”

Claretta tersenyum miring, kemudian membalikkan badannya. “Kamu memang sahabatku, Cha. Tapi nggak harus semua kamu tahu tentang diriku, bahkan masa laluku.”

Ucapan Claretta seketika membuat Sacha merasa gagal menjadi sahabat baiknya. Hubungan persahabatan mereka memang baru terbilang sebentar, sekitar satu tahun terakhir. Hal itu membuat Sacha belum terlalu mengenal sosok Claretta.

“Mumpung besok weekend ke pantai yuk, Cha!”

Masih dalam setengah melamun, Sacha mengangguk setuju dengan ajakan Claretta tanpa bertanya ini itu.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *